Jumat, 31 Mei 2019

Mei 2019

Masa itu tiba, setelah 5 tahun menempati sebuah kamar kost di kampung Grudo di pusat kota Surabaya: merapikan semua koleksi, mulai dari CDs, buku, zine, kaus, kaus kaki, sepatu, rempah2, kopi, teh yang menumpuk tak terarah. Sepanjang Mei 2019 cukup banyak menghabiskan waktu di kamar, menata dan memandang koleksi. Buku2 pinjaman yang belum dibaca, buku2 yang dibeli di perjalanan awal tahun ini ke Sumatra dan India, buku2 yang dibahas di WhatsApp, buku2 pemberian, dan buku2 yang dibeli di Gramedia. Akhirnya semuanya tersusun dalam satu rak dan meja belajar. Suatu pencapaian yang lumayan bikin menangis dan pegal2. 


rak buku & meja belajar 
Dengan matahari yang bersinar terang sejak jam 6 pagi hingga jam 5 sore, kamar ini memicu untuk memikirkan siapa saya dan apa yang mau saya kerjakan, mengingat bulan ini tidak ada satu pun pekerjaan yang menghasilkan uang sementara tagihan tetap sama. 

Saya memutuskan merawat tanaman, pandan dan lidah mertua. Pandan saya taruh di balkon, dan hampir tiap hari memetik sehelai daun pandan untuk dinikmati dengan air hangat. Lidah mertua saya taruh di dalam kamar untuk memberi semangat setiap kali melihat pertumbuhan mereka dan menyerap debu yang masuk ke kamar. 

Keputusan lainnya adalah memulai projek pribadi mengalami jalan2, gang2, dan ruang publik di Surabaya dengan berjalan kaki dan transportasi publik, semoga jadi sebuah buku. 




Bangun tidur, pemandangannya lidah mertua dan buku. Saya menghabiskan beberapa buku bulan Mei ini. Mulai dari komik Akira vol 1-7 yang saya beli di taman baca di Padang. Saya menyaksikan mural Akira di area under-konstruksi saat bekerja di Tokyo tahun lalu, wow. Engineers of Happy Land adalah rekomendasi Diki Forum Lentang, tinggal pinjam di c2o library, tertawa banyak, what a happy land. Buku review album Demi Masa oleh Fajar Nugraha mengajari saya untuk mengenal masalah2/konflik2 yang melilit masyarakat dan juga pentingnya berjalan kaki mengenal kota. Buku terbaru Raudal Tanjung Banua seperti merangkum perjalanan saya di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Jawa, menampilkan kota2 kecil yang beragam dan magis, buku ini saya pinjam dari Ayos. Ways of Seeing - John Berger, buku yang Celcea rekomendasikan, betapa susah ya baca gambar. Buku2, kopi & teh, dan jalan kaki membuat diri bertahan.


Kamis, 02 Mei 2019

Dear Lila (Part 1)

Sebuah gang di Surabaya Utara 

Surabaya, 2 Mei 2019 

Sejak akhir tahun 2015, saya berkesempatan untuk bekerja dan atau jalan-jalan di sejumlah kota besar di Asia yaitu Kolkata, Beijing, Shanghai, Tokyo, Taipei, Kuala Lumpur, Penang, Bangkok, Phnom Penh, Saigon, Hanoi, Manila, Hong Kong, dan Seoul.   

Kolkata mungkin menjadi kota yang paling berkesan, semacam perpaduan Hong Kong dengan Medan. Hong Kong memiliki transportasi publik yang ikonik superti tram dan ferry, juga memiliki jumlah pejalan kaki yang signifikan. Medan yang bising lalu-lintasnya sekaligus kaya variasi makanan dan minumannya. 

Kolkata memiliki Parekh & Singh yang baru saja merilis album terbaru bertajuk Science City. Mereka merekomendasikan Whale in The Pond dengan Marbles, teak heran karena salah satu kekayaan kota ini adalah marmer. Saya juga tertarik dengan single “Aaij Bhagle Kalke Aura Nai”, tapi belum tersedia di Spotify.  

22 September 2018, Silampukau tampil perdana di luar Indonesia, dalam sebum festival tua, Migration Music Festival. Kami tampil di Zhongshang Building, Taipei, bersama The Muddy Basin Ramblers yang baru saja merilis album baru, Hold that Tiger. Single andalannya adalah “Immigrant Song (Ballad of Carlos Bulosan)”. Saya baru tahu belakangan soal Carlos Bulosan, setelah berkunjung ke Manila di Desember 2018). Bulosan, seorang penulis Filipino-American immigrant yang dikenal dengan karyanya “America is in the Heart”, sebuah semi-otografi.  

Tahun 2016 untuk pertama kalinya saya ke China, Shanghai dan Beijing. December 2018 di Playfreely, Singapore, saya menonton pertunjukan musik eksperimental dari musisi asal Beijing, Li Jianhong, bisa check single-nya - Revolution is only a sad illusion, karena durasinya lebih dari 20 menit, saya tidak memasukkan dalam playlist ini yang saya susun untuk  kedai makan favorit saya di Kuantan, Malaysia. 

Terima kasih Lila, playlist ini menjadi salah satu medium saya untuk terus penasaran mengenal kota-kota di Asia. 

DEAR LILA (PART 1)


  1. Summer Skin - Parekh & Singh 
  2. Newbury Street - Parekh & Singh 
  3. Ghost - Parekh & Singh 
  4. Marbles - Whale In The Pond 
  5. Vanilla - Sunset Rollercoaster 
  6. My Jinji - Sunset Rollercoaster 
  7. Tiger Rag - The Muddy Basin Ramblers 
  8. Immigrant Song (Ballad of Carlos Bulosan) - The Muddy Basin Ramblers
  9. Game Start - Chinese Football 
  10. Electronic Girl - Chinese Football 
  11. Wallow - Forsaken Autumn 
  12. Sweet Sally - Ourselves the Elves
  13. D.I.C.K. - Ourselves the Elves 
  14. Fruitcake - Eraserheads
  15. With A Smile - Eraserheads 
  16. Surf Boy - Hyukoh 
  17. Gang Gang Schiele (Superorganism Remix) - Hyukoh 
  18. Ceremonial Song - mobilegirl
  19. Forest Coloss - mobilegirl 
  20. Lichen - Prune Deer 

Selasa, 01 Januari 2019

Amboina


Kota Ambon berada di Pulau Ambon, Maluku, Indonesia Timur. Dua jam tiga puluh menit dengan pesawat terbang dari Juanda, Surabaya. Berhari-hari dengan kapal Pelni dari pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. 

Agustus 2017 saya berlabuh untuk pertama kalinya di Ambon, transit satu malam dari Ternate sebelum melanjutkan perjalanan dengan kapal Pelni ke pelabuhan Tual (Pulau Kei Kecil). Saya naik bus Damri ke pusat kota dari bandara Pattimura. Kesempatan ke-2 adalah dengan kapal Pelni dari Banda Neira ke pelabuhan Ambon, menyaksikan teluk Ambon yang kusam dengan sampah mengambang, Alfred Russel Wallace pasti menangis. 

Kesempatan ke-3 adalah bersama rombongan musisi, kurator musik, organiser musik, dan jurnalis musik (swadaya) menikmati kota Ambon bulan Maret 2018 dalam rangka Konferensi Musik Indonesia yang pertama.

Warga kota Ambon umumnya berbahasa Ambon Melayu atau Melayu Ambon, membuat saya merasa tidak asing. Banyak tempat yang berkesan selama saya berkunjung di Ambon ditambah senyuman manis warga. Berikut adalah rekomendasi saya: 

  1. Pasar Ikan Arumbai 
Pasar yang berada di tepi pantai Mardika di pusat kota Ambon ini mulai bergerak dari matahari terbit sampai tenggelam. Berbagai ikan laut bermacam ukuran dijual, selalu ramai pembeli. Menikmati udara laut di pantai Mardika dan segarnya ikan adalah ucapan selamat datang yang manis di Ambon. Untuk sore selanjutnya bisa ke pantai Natsepa sambil makan rujak buah yang termahsyur. 

  1. Pasar Mardika 
Berada dalam satu kawasan dengan pasar ikan Arumbai, pasar ini aktif dari pagi hingga sore hari. Pasar basah dengan sayur mayur yang mengiurkan, sagu dan rempah-rempah yang membuat terbayang enaknya makan siang nanti. Juga ada rumah kopi untuk bernafas sejenak dari keriuhan pasar. 

Pasar Mardika juga terintegrasi dengan terminal angkot dalam kota dan mini-bus ke luar kota. Juga pelabuhan menyebrang teluk Ambon ke Universitas Pattimura, pilihan moda transportasi yang menarik ketimbang melintasi jembatan Merah Putih.  

  1. Rumah kopi Sariwangi (Jalan Dr. Setiabudi 53-A) 
Banyak pilihan rumah kopi di pusat kota Ambon, saya memilih rumah kopo Sariwangi karena kopi dan kue-kue yang disajikan sedap. Kopi hitam panas yang disaring disajikan dengan susu kental manis (jangan lupa pesan kurang manis) dinikmati dengan kue labu. 

Pilihan rumah kopi lainnya adalah rumah kopi Joas di Jalan Sam Ratulangi yang bersebelah dengan Lorong Arab (kampung Arab di Ambon). Sang pemilik kedai, pak Joas, menyajikan kopi saring dengan taburan biji kopi. Kopi terbaik menurut saya di Ambon. Kopi dari pulau Seram yang disajikan, dipilih dan disangrai sendiri oleh pak Joas. Pagi-pagi minum kopi hitam dengan pisang goreng sambil melihat atap kapal yang berlabuh di pelabuhan Ambon. Sempatkan untuk berjalan di Lorong Arab, bertemu dengan warga Ambon keturunan Yaman yang banyak berdagang kayu. 

Malam hari bisa ke rumah kopi Sibu-sibu (Jalan Said Perintah 47A) dan memilih kopi rempah dengan potongan buah kenari bernama kopi rarobang. Tak lupa beragam kue-kue legit dan sukun goreng yang memukau. 

  1. Café Paronama (Jalan Christina Martha Tiahahu 88)
Sore hari adalah saat yang manis untuk duduk santai di café Panorama yang menyajikan pemandangan kota Ambon dari atas bukit. Pesan kopi panas dan siap untuk makan ikan kuah kuning.  

  1. Warung Nasi Supira 
Rumah makan legendaris yang menandakan Ambon sebagai kota pelabuhan. Para perantau dari kota Semarang ini menyajikan nasi lauk yang ramah dengan lidah lokal. 

  1. Nasi Kuning Begadang
Makan tengah malam nasi kuning di sekitar Tugu Trikora. 

  1. Negeri Tulehu  
Salah satu hal yang menyenangkan di kota Ambon adalah angkutan umum tersedia ke seluruh negeri (kampung) di kota Ambon dan sekitarnya. Kita bisa naik angkot dari terminal pasar Mardika tujuan Tulehu. Turun di pasar Tulehu dan berjalan keliling kampung. Jika waktunya tepat bisa nonton sepak bola karena kampung ini dikenal sebagai penghasil para pemain sepak bola. 

  1. Benteng Amsterdam
Naik angkot dari terminal Mardika dengan tujuan negeri Hila, memakan perjalanan lebih dari 1 jam ditemani pemandangan pantai yang amboi. 
Benteng Amsterdam pernah menjadi rumah bagi naturalis Jerman, Georg Everhard Rumphius yang meneliti flora dan fauna di pulau Ambon. (Bisa berkunjung ke Perpustakaan Rumphius di kompleks Pastoran Paroki Santo Franciscus Xaverius di kota Ambon). Selepas menjelajahi Benteng Amsterdam, kita berjalan kaki di negeri Hila dan berkunjung ke Gereja Imanuel. 

  1. Buah Kenari 
Makan kenari segar. Saya menjumpai banyak pohon kenari saat berjalan kaki di Pulau Banda Besar, tapi baru punya kesempatan untuk makan kenari segar di Ambon. Dengan mudah kita akan menemukan perempuan2 berdagang buah kenari dan buah-buahan lainnya di pojok-pojok jalan tempat keramaian. Rasanya lembut bagai kelapa muda tapi teksturnya lebih padat, sangat nikmat. 

  1. Lapangan Merdeka (Jalan Slamet Riyadi)
Berolahraga di Lapangan Merdeka adalah hal sehari-hari anak muda Ambon. Pakai sepatu larimu, ayo berkeringat.

  1. Paparisa Ambon Bergerak (Jalan Diponegoro, Lorong Sagu 58)
Aktivitas seni & kreatif, anak muda Ambon ada di tangan mereka. Tanya ke mereka apa ada pertunjukan musik dalam waktu dekat, hey ini kota musik. Ikuti akun instagram mereka; @ambonbergerak 

  1. Museum Siwalima
Lokasi museum ini di atas bukit yang menghadap teluk Ambon. Mempunyai koleksi peninggalan kerajaan-kerajaan di Maluku. Selepas menikmati museum bisa minum kopi dan makan pisang dan sukun goreng di Agniya (Jalan Dr. Malaihollo 8) yang lokasinya berdekatan dengan museum.

  1. Pulau Haruku 
Saat saya naik perahu cepat ke Masohi (Pulau Seram) ternyata saya melewati Pulau Haruka, pulau terdekat dari Ambon. One day trip ke Pulau Haruku menjadi pilihan yang paling mungkin. 


  1. Belanja oleh-oleh di Gracia (Jalan Dr. Setiabudi 21). Kesukaan semua orang: roti kenari, serut kenari, dan keju kenari. Tersedia juga minyak kayu putih. 

Senin, 30 April 2018

Kuala Lumpur dan sekitarnya

Dear Mondo Gascaro,

Berikut ini sejumlah rekomendasi oleh saya untuk menikmati Kuala Lumpur. Selamat menikmati tiga minggu di Malaysia.

Transportasi publik di Kuala Lumpur menjadi menyenangkan dengan hadirnya MRT. Dari KLIA naik bus ke KL Sentral, cara paling murah dan tetap nyaman untuk ke pusat bandar.  Setibanya di KL Sentral bisa langsung naik LRT atau MRT, tidak lupa beli es krim Milo di kedai terdekat yang juga menyediakan money changer dengan rate yang lebih baik ketimbang di KLIA. Lanjut top-up MyRapid Touch ‘n Go, kartu untuk memudahkan menggunakan transportasi publik selama di Kuala Lumpur. 

Tinggal di pusat Bandar adalah pilihan yang terbaik, saya biasanya memilih tinggal di daerah Chinatown, kawasan Petaling Street, dekat dengan stasiun Pasar Seni, dan banyak hostel dengan harga terjangkau dengan kualitas yang layak. Jangan lupa memakai nomor lokal selama di Malaysia, sangat membantu untuk tetap berkomunikasi dengan kawan-kawan di Malaysia dan memantau kerjaan di Indonesia.

Makanan
  1. Chinatown - Petaling Street
Sarapan di kopitiam adalah yang terbaik. Ada kopitiam yang halal dan dikenal di kalangan turis. Dari stasiun LRT Pasar Seni, berjalan kaki ke arah Medan Pasar untuk sarapan roti panggang srikaya dan kopi di Old Market Square Café. Kopitiam ini berhadapan dengan gedung art deco bercat putih tiga lantai yang menjadi kantor Freeform, penyelenggara creative art festival, Urbanscape. Gedung yang berlokasi di pojokan Jalan Hang Kasturi juga menjadi pilihan untuk melihat pameran yang berkaitan dengan isu perkotaan atau bergabung diskusi di Ruang yang dikelola oleh Think City, organisasi yang program-programnya adalah community-focused urban regeneration.

Sambil jalan-jalan di Chinatown, saya suka sekali minum soya milk yang dijual di pinggir jalan dan bir dingin dari minimarket di tengah teriknya Kuala Lumpur. Lalu ada satu gang yang menjual banyak favorit (ada yang non-babi juga), mulai dari laksa hingga yong tau foo, berlokasi di Lorong Bandar 20, cukup mudah ditemukan. Madras Lane Yong Tau Foo adalah yang terbaik (sepertinya halal).  


  1. Kampung Baru
Nasi lemak terbaik yang pernah saya coba ada di Kampung Baru, mulai berjualan dari jam 4 pagi hingga habis (biasanya habis jam 6/7 pagi), aku lupa namanya, coba tanya ke kawan-kawan Malaysia. Karena kamu akan di Malaysia sampai Ramadan, Kampung Baru menggelar bazaar Ramadhan setiap sore menjelang buka puasa, buas-buas yang dijual. Jangan lupa menikmati kue pelita, popular semasa Ramadan.

  1. Bukit Bintang
Naik MRT dari Pasar Seni ke Bukit Bintang untuk makan nasi ayam Hainan Chee Meng (halal!) sambil minum kopi susu.

  1. Kedai Mamak
Kedai Mamak (dikelola oleh Tamil muslim) paling banyak ditemui di KL, biasanya buka 24 jam atau setidaknya hingga tengah malam. Saya memilih kedai mamak yang menyajikan cheese naan, seringnya pergi ke RSMY. Jangan lupa pesan teh tarik kurang manis, ingat diabetes menghantui.

  1. TTDI
Kantor The Wknd bertempat di TTDI, perumahan dengan banyak kedai dan kafe yang cukup ok. Favorit ku adalah D’Cengkih yang menyajikan banyak masakan Johor (ini halal juga). Beragam kue yang menggiurkan dan masakan prasmanan yang bikin kalap. Makanan Johor mengingatkan saya dengan masakan Jawa yang beraroma Bugis-Melayu.


Tempat

  1. Zhongshan Building, hanya 10 menit berjalan kaki dari area Petaling Street. Kita akan bertemu dengan banyak anak muda Malaysia yang bergelut dengan literasi, musik, pengarsipan, kopi, bakery, dan design. Bangunan tiga lantai menyatukan toko musik Tandang Store dengan studio risograph dan perpustakaan.

  1. Ilham Gallery
Naik LRT ke Ampang Station, lalu jalan kaki 5 menit ke Ilham Gallery sambil menyaksikan Ampang Mall yang sudah ditutup demi pembangunan station MRT. Tengah berlangsung pameran “Patani Semasa” hingga 15 July 2018. Patani adalah wilayah Thailand yang didominasi oleh warga Melayu-Islam. Saya hanya mengenali satu nama partisipannya, Roslisham Ismail (ISE). Ilham Gallery memiliki art shop yang menjual merchandise seni dan souvenir Malaysia yang menarik, juga tersedia kopi dan teh untuk duduk santai setelah menikmati pameran.
http://www.ilhamgallery.com  

Toko buku
  1. Kinokuniya di Suria KLCC yang menyediakan banyak sekali buku berbahasa Inggris. Jangan lupa beli komik Lat, terutama yang judulnya Mat Som, menceritakan Kuala Lumpur tahun 1970an.  
  1. Gerakbudaya di Petaling Jaya untuk koleksi buku mengenai Malaysia dan Asia Tenggara (dalam bahasa Inggris dan bahasa Malaysia) dengan harga yang terjangkau. Tersedia buku LiteraCity yang memetakan karya sastra tentang Kuala Lumpur.
            http://gbgerakbudaya.com/home/

  1. Tintabudi di Zhongshan Building, menyediakan buku2 bekas berkualitas dalam bahasa Inggris. 
  1. Tengah berlangsung, Kuala Lumpur International Book Fair, hingga 6 Mei 2018 di PWTC (bisa naik LRT). Cari booth ITBM yang menerbitkan buku-buku klasik dan penelitian mengenai Malaysia dalam bahasa Inggris.
http://itbm.com.my/#default

Records store
Selain Teenage Head Records bisa pergi ke Amcorp Mall di Petaling Jaya (naik LRT ke Taman Jaya Station (Kelana Jaya Line) lalu jalan kaki ke Amcorp Mall), setiap akhir pekan (atau Minggu) ada bazaar records dan toys.

Rantepao, 30 April 2018

Anitha Silvia

Senin, 01 Januari 2018

2017 & 2018



2017

“Ini masuk angin, saya kerok ya”, kata Ibu Mina, ahli pijat di kelurahan Tukang Kayu, Banyuwangi, di hari Natal.

Saya menurut saja karena badan ini terasa sangat letih. Sejak tahun 2016, saya rutin bepergian jauh dan berjalan kaki di Surabaya. Terlebih sepanjang tahun 2017, ngelencer dari ujung Barat Indonesia hingga Kepulauan Maluku, bolak-balik ke Malaysia, keliling Asia Tenggara, dan hampir sebulan di China. Energi dan uang terkuras habis. Masih untung cuma sakit pegal-pegal dan masuk angin. Masih untung masih hidup.

Selain menyelesaikan 2 artikel untuk Whiteboard Journal, saya menyusun 5000 lebih kata untuk sebuah tulisan non-fiksi mengenai Malaysia meskipun sang editor tidak puas dengan draft tulisan yang saya kirim.

Akhir tahun berjumpa dengan Dawuk, sebuah kisah ciptaan Mahfud Ikhwan. Dawuk mengingatkan saya dengan Mat Som, meskipun nasib mereka berdeda. Mahfud Ikhwan dekat dengan Malaysia dan Jawa Timur, saya menikmati narasinya. Saya juga baru saja menyelesaikan Rafilus karya Budi Darma. Terima kasih kepada Prinka Saraswati yang merekomendasikan buku ini, senang sekali diajak jalan kaki keliling Surabaya oleh Budi Darma.

Pertigaan berhasil membuat peta pegupon di sepanjang Jalan Kalimas dan bertemu kembali Celcea Tifani yang liburan di Surabaya. Beruntungnya saya, dia memberi tumpangan tempat tinggal, menjadi google map, dan mengajarkan bahasa Mandarin selama saya di China. Celcea juga menyelesaikan peta Surabaya Utara bersama idiscovery, saya bangga.

Saya lebih menghabiskan waktu di luar Surabaya, itu berarti dengan berat hate meninggalkan SATSCo, Surabaya Johnny Walker, Rumah Gemah Ripah, dan Silampukau. Ada harga yang harus dibayar.

Ucapan terima kasih dan hutang budi tak terhingga kepada kawan-kawan Indonesia dan Malaysia yang membantu saya selamat dan bersenang-senang keliling Indonesia dan Malaysia.

Tidak menyangka bisa berkunjung ke Banda Aceh dan bertemu langsung dengan tim BNA Youth Booking: Teuku Fariza, Teuku Farial, Adoy, dan Aden. Saya naik Jeep keliling Banda Aceh bersama mereka. Medan ada Dolly dan Ipan, yang menemani saya menghadapi musibah di Medan. Menanti kesempatan lainnya untuk jalan2 di Padang bersama Verdy. Goceng & Dias memperkenalkan Bandar Lampung dengan manis. Ternate ada Adlun yang berbakti berbagi ilmu dan waktu dengan anak-anak jalanan. Ambon ada Yunita dan Pierre. Manado ada Ferdi & Eko. Palu ada Dika dan Neni yang siap berbagi pengetahuan mengenai Donggala. Palembang ada Ryan Pelor dan Taxlan yang selalu siap bergerak. Agni & Pop yang membuat Lasem wajib dikunjungi. Dimas dan Ardi yang membangun dengan cinta Bersukaria Walk di Semarang dan Roovie yang berbagi ulang tahun dengan saya.

Arif Ramly yang membuka banyak pintu di Malaysia. Aqashah yang selalu menyambut hangat kedatangan saya di KL dan Apek yang rajin berbagi teh dan gosip. Wan dan Choi Tandang Store yang selalu memberi tempat istirahat. Zikri Rahman, teman baik berdiskusi & berjalan kaki di KL. Hasanul & Hoo Fan Cho, dua penjelajah di Penang. Shukor yang bersedia menjemput saya tengah malam di bandara Kuching, Aman dan Farisa yang selalu berbagi kuliner dan semangat di Kuantan.

Terima kasih atas semua ucapan dukungan dan “hati-hati” dari kawan2 Indonesia dan Malaysia. Saya berhutang banyak ke mereka.

“Just be careful. Don’t show ur belonging.”
“Aduhhh, aku tiada di sana. Agar semuanya baik-baik belaka.”
“Hati-hati ya.”
“Safe trip.”



2018
Tahun 2018 akan mulai membuat karya bersama Prinka Saraswati. Saya mungkin akan memilih lebih banyak waktu di Surabaya. Pasuruan dan Banyuwangi untuk Mama dan keluarga besar Soetiadji, menyediakan lebih banyak waktu untuk produksi album ke-2 Silampukau, dan mengikuti kelas yoga. Semoga bisa berkunjung ke Filipina, Taiwan, dan menyaksikan Asian Games 2018 di Palembang. Rasanya satu tahun terlalu pendek untuk menuntaskan keinginan dan kebutuhan.

Pekerjaan yang sudah menanti adalah Folk Music Festival 2018 dan Indonesian Netaudio Festival 2018. Tantangan lebih berat, semoga tim kerja sehat dan berkecukupan sepanjang tahun.

Akan mulai menulis buku di tahun 2018, ide yang tak pernah saya pikirkan karena tulisan saya masih jelek banget (terima kasih para editor yang telah “menyulap” tulisan saya.”). Merasa terhormat saat tiga kawan baik meminta saya untuk menulis panjang, sebuah buku.

“Lo musti bikin buku”
“Kamu nulis buku lah”
“Kamu harus tulis buku, kamu banyak berjalan”



Banyuwangi & Surabaya, 25 Desember 2017 & 1 Januari 2018
Anitha Silvia