Kamis, 09 Februari 2017

Bangkok Walking Tour



Surabaya Johnny Walker memberikan saya kesempatan untuk mengikuti Bangkok WalkingAdventures pada hari Senin, 16 January 2017. Saya memilihi rute full day sekitar 7 jam senilai 65 USD. Meeting point adalah stasiun kereta api Hualampong pukul 08.30, hanya 10 menit berjalan kaki dari hostel saya. Karena transportasi public di Bangkok sudah lumayan layak dan popular, tidak heran meeting point-nya di public space, menarik juga karena aku bisa mengamati stasiun kereta api yang dibangun era kolonial dan para komuter yang sudah mulai bergerak. Tour guide memakai baju dan topi berlabelkan Bangkok Walking Adventures, jadi saya mudah mengenalinya. Pertama kami berjalan kaki menuju pintu Chinatown sambil membahas filem2 yang shooting di Bangkok dan menikmati udara pagi dengan sedikit polusi.

The

THE TOUR
1.    THE DRAGON’S BELLY
Meskipun saya sudah ke Chinatown sehari sebelum tur, tapi hal yang berbeda yang saya dapatkan, rute terbaik yang pernah saya ikuti. Sangat menyenangkan karena di Chinatown banyak gang dan kita tidak akan melalui jalan yang sama. Chinatown di Bangkok menurut saya paling menarik di Asia Tenggara karena sangat padat dan berbaur dengan baik dengan kultur Thailand.

a.    Toko Peti Mati
Toko2 sudah buka pukul 08.00, salah satunya toko peti mati untuk kaum Chinese-Thai, mulai diperkenalkan gabungan visual China dan Thailand.

b.    Fortune Teller
Kami ke salah satu Wat yang popular dengan fortune teller seperti di Klenteng Dukuh, Surabaya. Wat adalah sebuah kompleks yang terdiri dari kuil, tempat tinggal biksu, sekolah, dan jasa penyimpanan abu. Pasti ada pohon Bodhi di halaman Wat. Sang tour guide meminta saya untuk menyimpan daun Bodhi yang telah gugur di dalam buku, katanya supaya saya tambah pintar.

c.     Old Market
Salah satu yang menarik adalah Trok Issaranuphap, terletak di sebuah sei (bahasa Thai untuk gang) di Jalan Yaowarat, barisan pelapak dan toko sayuran dan makanan memenuhi gang ini. Banyak toko yang menjual rempah-rempah dan teh beserta perangkat poci untuk meminum teh. Kami menyusuri bagian belakang dari toko-toko tersebut, melihat dapur mereka! Kuil pertama di Chinatown juga terletak di sei ini, namanya Leng Buai la Shrine, kuil untuk menghormati orang Cina pertama yang datang ke Bangkok, seorang pedagang ulung.  

d.    Baan Kao Lao Reuang
Sebuah museum yang menempati rumah kedai tiga lantai di Charoen Krung Soi 23, menjadi pusat konservasi budaya dan museum yang dikelola oleh warga Charoen Chai District. Baan Kalo Lao Reuang menyediakan peta Charoen Chai – Bangkok’s Chinatown untuk turis (sangat menarik!!!) dan menampilkan koleksi foto dan lukisan serta properti teater. Ada kotak donasi dan mereka juga menjual merchandise.
http://www.bangkokpost.com/print/443047/

e.    Nightingale-Olympic
Kami berkunjung ke department store pertama di Bangkok, sejak tahun 1960an, dan mereka masih menjual produk tahun 70an, ya ampun barang2 vintage bertebaran, baju hingga alat musik, terbaik banget. Foto yang terpajang adalah King Rama V yang dikagumi rakyat Thai.

f.      Sikh temple
Ternyata ada little India juga, sebelahan dengan Chinatown. Sebelumnya kami makan siang pork noodle dengan desert yang yahud (padahal kayak es campur, tapi kenapa rasanya enak banget ya). Berkunjung ke Sikh Temple terbesar ke-2 di dunia, yang terbesar pertama pastinya di India. Di sekitar temple ada shopping mall kebutuhan kaum India dan Indian street food.

2.    BUCKET LIST
Bucket List adalah rute umum, mengunjungi tempat2 wajib dan touristy.

a.    The Majestic Chao Phrya River
Chao Phrya River adalah sungai utama yang membelah Bangkok, kami menyebrang dari Chinatown ke Wat Arun dengan perahu mesin, hanya 2 menit, singkat sekali, seperti naik tambang di Kali Mas. Sungai Chaos Phrya bersih dan tidak berbau, bisa menikmati sungai sambil menunggu perahu datang. Sistem transportasi publik di Bangkok paling maju di Asia Tenggara setelah Singapore dan Malaysia. Semua wilayah terhubung dengan beragam transportasi, yaitu bis kota, BTS sky train, MRT (Bangkok Metro), dan Express Boat River Taxis (Chao Phraya Express). Selain itu ada tuk-tuk dan taksi.

b.    Local Snack & Herbal Drink
Saya nyoba cumi bakar dengan sambal, terlalu pedas dan porsinya terlalu besar. Menikmati snack lokal: coconut rice cake (semacam kue serabi yang disajikan setengah matang) dan minum herbal drink, air buah semacam jeruk.

c.     Reclining Buddha
Masuk ke kuil harus lepas sepatu dan berpakaian sopan, bahkan celana training ketat juga tidak layak. Kotak donasi tersebar di banyak sudut, pengunjung dengan senang hati memberikan Bath.

d.    Grand Palace
Bangkok sedang masa berkabung selama setahun atas kematian Rama King IX. Antrian panjang para warga Thai di Grand Palace untuk menyatakan duka, menjadi pemandangan menarik tersendiri karena banyak relawan yang menyediakan jasa potong rambut gratis dan makanan minuman gratis dengan kualitas terbaik!

Karena saya pakai celana jogging yang ketat, jadi harus mengantri di bagian kostum untuk memakai kain. Kain/kemeja dipinjamkan gratis dengan deposit.
  
e.    The Emerald Buddha
Tour guide selalu mengingatkan cara duduk yang baik saat di kuil, bisa/tidak ambil foto, mencegah turis berbuat tidak layak J

f.      Thailand’s first massage school
Sayangnya tidak mencoba Thai massage (mahal juga sih 250 Bath)

g.    The Temple of Dawn
Ini adalah situs terakhir dan terhubung dengan transportasi publik, jadi aku naik perahu untuk pulang ke hostel, sangat ok rutenya.

Tour guide-nya berlisensi (hehhehe karena saya belum berlisensi). Info darinya, hanya orang Thailand yang bisa jadi tour guide, kerajaan hanya ingin orang Thai sendiri yang bercerita tentang sejarah Thailand kepada turis. Semua tour guide berlisensi di Thailand, mereka membayar dan mengikuti kursus tour guide selama 6 bulan. Saat berkunjung ke museum atau tempat wisata berbayar lainnya, dia memakai ID tour guide dan tidak perlu membayar entrance fee.

Tour guide berbicara dalam bahasa Inggris yang tidak terlalu fasih, jadi saya harus pasang telinga dengan baik jika dia bercerita agak panjang. Karena dia membawa foto2 lama dan arsip yang terkait dengan situs, aku terbantu untuk mengenal sejarah Chinatown. Dia selalu ambil foto saya di tempat-tempat popular, dan ok juga foto2nya dikirim via email beberapa hari setelah tour. Usianya 40an dan dia bekerja freelance di walking tour ini. Saat ini sedang low season, 1 tour per 1 week itu sudah ok. Dia bisa handle maksimum 8 orang sendirian. Umumnya turis asing yang ambil tour, karena warga Bangkok tidak berjalan kaki, mereka naik tuk-tuk atau sepeda motor.


Les Huysmans, pendiri Bangkok Walking Adventures adalah seorang Belgia yang sudah lebih dari 10 tahun tinggal di Bangkok. Las yang membuat semua rute, dia yang melakukan riset. Tour guide saya salut dengan usaha Les melakukan riset dan membuat rute, bahkan dia sebagai warga lokal banyak juga tidak tahu mengenai situs2 yang dipilih Las.

Banyak pilihan walking tour di Bangkok, lain kesempatan akan mencoba yang lainnya :) 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar