Rabu, 17 Juni 2015

April 2015 di Komunitas Bambu




Matahari belum terbit, tapi mata sudah melek, cukup kenyang tidur di Agro Anggrek Malam, siap turun di Jatinegara.  Jika berkunjung ke Jakarta, saya paling suka naik kereta api, turun di Jatinegara, lalu memilih tujuan dengan Commuter Line dengan sistem pembayaran e-money yang efektif dan efesien. Tujuan pertama saya adalah Komunitas Bambu.

Dengan Commuter Line Menuju Beji, Depok, turun di stasiun Pondok Cina yang juga baru direnovasi, lebih lapang dan teratur. Naik ojek ke Lapangan HW, jalan kaki sedikit ke Jalan Taufiqurahman no. 3 yang berada dekat dengan SMP Muhammadiyah. Di pagi masih dingin sisa hujan semalam, saya masuk ke Komunitas Bambu, para pekerja bangunan sedang bersiap-siap untuk bekerja membangun dua bangunan lagi. Bangunan utama yang adalah kantor Komunitas Bambu sudah hampir selesai dibangun. JJ Rizal, pendiri Komunitas Bambu datang 30 menit kemudian dengan wajah segar sehabis mandi sambil membawa gorengan. Karena saya kelaparan, saya minta dibelikan nasi uduk, dengan sepeda kayuh JJ Rizal membeli dua bungkus nasi uduk sebagai sarapan kami.

Kabar akan tutupnya Komunitas Bambu beberapa tahun silam membuat saya dan banyak orang gelisah. Sekarang saya melihat Komunitas Bambu sedang membangun kantor dan galeri, kami pun tersenyum. Meskipun ada masalah di kontraktor mula-mula yang membangun, sekarang diatasi oleh arsitek Yoshi Fajar,  menjadi sebuah kantor yang nyaman, teduh, cantik, dan inspiratif. Kantor berada di lantai dua, perpustakaan di lantai 1, lantai dasar untuk operasional pegawai. Yang sedang dibangun adalah galeri buku (nantinya akan memamerkan artwork cover buku terbitan Komunitas Bambu) dan rumah JJ Rizal yang berada di belakang kantor.  

Meskipun oplah buku dan penjualan terus menurun dari tahun karena kebijakan dari Gramedia, dapur Komunitas Bambu tetap ngebul dengan berbagai cara, mulai dari menjadi ghost writer, merchandise, event, konsultan, pembicara. Merampingkan pegawai juga menjadi pilihan. Kabar yang sangat disayangkan yaitu sang pembuat artwork cover buku Kebo sedang tidak bisa menerima order karena sedang merawat orang tua nya yang sedang sakit. Terlihat dari salah terbitan terakhir Komunitas Bambu (Ibu Pergi ke Surga – Sitor Sitomorang) tidak mencerminkan gaya buku Komunitas Bambu yang sudah akrab dengan visual gaya Kebo.

Secangkir kopi hitam disuguhkan sambil membahas filem-filem yang membawa tokoh bangsa seperti Tjokroaminoto dan Soekarno. Kritik JJ Rizal terhadap filem-filem tersebut adalah desoekarnoisasi seperti memberi label Soekarno yang playboy dan punya kekuatan mistis dan Tjokroaminoto yang lebih dilihat sebagai satrio piningit ketimbang kemampuan intelektualnya. JJ Rizal merekomendasikan filem mengenai Soekarno yang masih layak untuk dikonsumsi, “Ketika Bung di Ende” yang diproduksi oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.Banyak cerita menarik dari JJ Rizal hingga kopi saya tandas dan tujuan selanjutnya telah menanti.  

Selamat dan semangat untuk rumah baru Komunitas Bambu. Sampai jumpa di lain kesempatan.   

3 komentar: