Kamis, 19 Februari 2015

Yogyakarta, 14 Februari 2015



Yogyakarta, 14 Februari 2015

Sudah siang saat saya tiba di Terminal Giwangan, melanjutkan perjalanan ke dengan Trans Jogja yang tarifnya barusan naik dari 3000 rupiah menjadi 3600 rupiah. Makan siang lotek di kedai “Sederhana” yang menjadi lotek kesukaan di Jalan Parangtritis. Tiba di KUNCI ada kawanan Visual Jalanan dan Klub Karya yang sedang tinggal di Jogja selama dua minggu lebih, ada Yoyo, Abi Rama, Aryo, dan Denny, juga ada Chepas dan Bagus yang menyapa. Saya menumpang mandi dan beristirahat di KUNCI yang menempati  rumah lama dengan pekarangan yang luas.

Menemukan buku yang tergeletak di ruang makan yang semi outdoor, buku karya Andy Fuller dan Dimaz Maulana, “The Struggle for Soccer in Indonesia: Fandom, Archives, and Urban Identity”. Membaca sejumlah halaman pertama yang langsung menarik perhatian, sejarah persepakbolaan Indonesia terutama Surabaya. Saya langsung menghubungi  Dimaz, berniat mendapatkan satu kopi buku ini, ternyata cetakan pertama sudah habis, harus menunggu funding untuk memproduksi cetakan kedua. Dimaz merencanakan buku ini untuk didiskusikan di Surabaya.

Sebelum hujan turun dengan deras, saya sudah tiba di Krack Studio, ada Moki dan Malcom di studio kerja mereka. Tengah berlangsung pameran tunggal Prihatmoko Moki bertajuk “Forget Me Not”. Pameran hasil residensi Moki di Megalo, Canberra, Australia. Moki mengambil isu kolonialisasi Inggris atas Australia, ketengangan yang masih terjadi antara orang indigineous (Aborigin) dan non-indigenous.  “Forget Me Not” memiliki dua seri yang dikerjakan di Megalo dan satu karya baru yang diproduksi di Krack Studio.

Seri pertama adalah Captain Cook Still Here. Moki menyajikan kembali karya E Phillips Fox yaitu lukisan “The Landing of Captain Cook at Botany” dengan memotong Captain Cook dan menaruhnya dalam gambar ruang studio Megalo dan rumah tempat tinggal selama residensi. Seri kedua adalah “McRae vs YMCK”. McRae adalah seniman Aborigin yang banyak menghasilkan karya mengenai kehidupan sehari-hari orang Aborigin. Moki menyandingkan karya Phillips Fox dengan karya McRae, sebuah pertemuan yang menggambarkan perebutan lahan. Karya baru yang diproduksi Moki adalah Kotak Emas yaitu sebuah mural yang memenuhi salah satu sisi dinding ruang pamer di Krack Studio yang menyajikan titik-titik kekayaan alam Indonesia (rempah-rempah, uranium, gula) yang diincar dan menyebabkan perebutan lahan yang masih berlangsung hingga kini.  Moki menjelaskan tiga karyanya  ini kepada Mastodon yang datang untuk berkonsultasi dengan Moki mengenai printmaking.

Mastodon pergi, Chabib ditemani oleh Sita datang berkunjung ke Krack Studio. Chabib sedang di Jogja untuk pameran yang dikerjakannya bersama Ketjil Bergerak. Chabib sendiri telah melakukan riset mengenai kelompok seni Decenta di Bandung.  

Masih gerimis, dengan payung saya meninggalkan Krack Studio menuju MES 56. Sempat mampir ke Ace House melihat Uji Hahan, Hendra Hehe, dan tim sedang melakukan finishing untuk vinyl Frau – Starlit Carousel. Hahan, Wok The Rock, Uma Gumma, dan Gufi membentuk Nirmana Records yang diperuntukan untuk merilis piringan hitam band/musisi dari Yogyakarta. Rilisian perdana Nirmana Records adalah Frau – Starlit Carousel yang sebelumnya dirilis secara digital oleh Yes No Wave Music dan format CD oleh Cakrawala Records.

Meninggalkan Ace House menuju MES 56, venue book signing Frau – Starlit Carousel. Nirmana Records merilis vinyl dengan buku patitur untuk piano dan gitar yang dikemas secara eksklusif seharga 395.000 rupiah, harga yang pantas untuk karya yang dihasilkan. Hanya diproduksi sebanyak 200 buah, dan setiap pembelian maksimal dua buah, dalam rangka meminimalisir penimbunan.  Hujan pun reda, telah hadir Frau, seluruh personel MES 56 dan Nirmana Records, Bagus Yes No Shop, para pendokumentasi, dan sejumlah pembeli. Acara book signing dimulai, ditutup dengan munculnya pelangi, manisnya.

Selepas book signing, panitia pertunjukkan peluncuran vinyl Frau – Starlit Carousel segera menata venue dengan kursi, sound system, lampu, dan menyalakan genset. Pertunjukkan akan dimulai pukul 8 malam ini. Para 130 pembeli tiket pertunjukkan senilai 30.000 rupiah mulai berdatangan sejak pukul 7 malam. Acara dibuka dengan pemotongan tumpeng, selamatan kelahiran Nirmana Records, dan Frau sudah siap tampil untuk menghibur penonton yang memenuhi halaman MES 56. 




Frau membawakan seluruh lagu di dalam album perdananya, termasuk dua lagu yang hanya masuk dalam rilisan piringan hitam (Marry Me & Oscar). Penonton menyaksikan dari jarak dekat, hangat dengan kata-kata pengantar tiap lagu yang dihaturkan oleh Leilani Hermiasih. Wok The Rock tampil bersama Frau dalam lagu Rat and Cat dan Nadya Hatta dalam Salahku, Sahabatku. Tidak terdengar sing along, tapi semuanya terlihat menikmati, sepertinya sebagian besar penonton menyanyi bersama dalam hati. Tarian Sari dibawakan sebagai encore pertunjukkan malam ini. Pesta peluncuran belum usai, dilanjutkan karaoke bersama, saya pun pulang dengan hati tenang.     

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar