Kamis, 31 Juli 2014

Sutiadji dan Tragedi 1965

Makam Islam di Pasuruan



"Makam Mbah Sutiadji dimana?" 

Saya baru melontarkan pertanyaan itu saat Lebaran tahun 2013, ketika ziarah ke makam Mbah Siti Fatimah, Pakde Sunarko, dan anggota keluarga lainnya yang saya hanya kenal lewat cerita. Makam Islam yang menjadi rumah peristirahatan terakhir beberapa anggota keluarga, berjarak 10 menit berjalan kaki dari rumah Bude Sri di Jambangan, Pasuruan, bekas kota pelabuhan di era kolonial. Makam yang semarak dengan cat warna warni di nisan-nisan, tambah semarak dengan kehadiran peziarah dengan pakaian yang berwarna-warni. 

"Makam Mbah Sutiadji di Lawang (Malang) bersama keluarganya", jawab salah satu anggota rombongan kami, entah itu sepupu ku atau Bude Sud atau Le Agus. Saya terpikir untuk pergi ke Lawang, ziarah ke makam kakek saya, Sutiadji.  

Lebaran tahun ini, kami keluarga besar Sutiadji kembali ziarah. Suasana di makam seperti festival yang merayakan dan menghormati kematian, nisan berwarna-warni, penjual bunga yang membungkus kenanga dan mawar dalam selembar daun pisang, peziarah yang memakai pakaian terbaik mereka, penjual bakso dan es degan yang menggoda peziarah untuk mampir, penjual balon yang menunggu pembeli di pintu masuk, anak-anak setempat menyalakan petasan. Doa-doa bertebaran, bunga-bunga bertaburan, ingatan dan kenangan berhamburan, rindu berserakan, orang tua menurunkan sejarah keluarga kepada anak-anak, mengirim senyuman dan cerita kepada mereka yang telah pergi.

Setelah dua hari Lebaran yang penuh dengan kunjungan silahturahmi keluarga, tersisa saya dan Bude Sri di rumah Jambangan. Obrolan kami berdua didominasi kemenangan Jokowi sebagai Presiden RI dan drama keluarga. Bude Sri tidak mendukung Prabowo, saya juga. Alasan saya tidak mendukung Prabowo karena dia terlibat dalam kerusuhan Mei tahun 1998 di Jakarta dan insiden Santa Cruz di Dili tahun 1991. Alasan Bude Sri tidak memilih Prabowo karena tidak mau kembali merasakan kekejaman Soeharto. Cukup kaget karena Bude Sri adalah pensiunan PNS (guru) dan beberapa anggota keluarga besar kami adalah PNS, TNI, dan pegawai BUMN. 

Bude Sri kembali bercerita mengenai perjuangan nenek saya, Siti Fatimah untuk menghidupi 8 anaknya setelah kakek saya meninggal. Saya bertanya mengenai Mbah Kakung Setiadji karena tidak banyak cerita yang beredar tentang beliau saat keluarga berkumpul. Bude Sri kembali serius bercerita, seperti ingin memberitahukan sebuah rahasia. Bude Sri berkata bahwa telah tiba waktu yang tepat untuk memberitahu apa yang sebenarnya.

"Mbah Kakung tidak pernah kembali pulang ke rumah, ditangkap oleh ABRI di rumah sakit umum daerah kota Pasuruan, tempat dia bekerja sebagai petugas kesehatan. Dia dituduh sebagai PKI. Dia tidak pernah pulang ke rumah sejak itu, 5 November 1965."

Kepalaku meledak, langsung bersujud ke pangkuan Bude Sri, menangis, Bude Sri juga menangis. Selama ini aku banyak membaca buku dan artikel mengenai Tragedi 1965, ternyata keluarga ku ....

Aku pernah bertanya ke Mama mengenai kondisi kota Pasuruan setelah peristiwa GESTOK. Pasuruan penuh dengan darah, air sungai menjadi merah penuh dengan kepala yang terpenggal dari tubuh manusia saat itu. Tapi Mama tidak pernah cerita kalau ayahnya hilang karena dituduh sebagai anggota PKI. Bude Tar dan Bude Sud juga tidak pernah cerita, tidak pernah dibahas dalam keluarga. Bude Sri memang tidak menceritakan ke seluruh keluarga karena isu PKI masih rawan hingga sekarang. 

Tidak ada makam Setiadji, tidak ada pemberitahuan resmi bahwa dia telah meninggal, tidak melihat mayatnya, tetapi istri dan anak-anaknya sudah menerima dengan berat hati, Setiadji tidak kembali, dia dibunuh. Seluruh keluarga dibebani diskriminasi karena pemerintah yang berkuasa saat itu adalah anti-PKI.  

Setiadji lahir dari keluarga priyayi, Siti Fatimah lahir dari keluarga santri. Setiadji berbahasa Belanda di lingkungan keluarganya, Siti Fatimah berbahasa Jawa dan Arab. Siti Fatimah adalah guru ngaji, Setiadji adalah tentara RI yang bertugas di bagian medis. Setiadji ditempatkan di RSUD Pasuruan, dia tinggal di asrama bersama istri dan anak-anaknya. Kemudian membeli tanah dan membangun rumah di Jambangan. Setiadji suka menolong warga sekitar dengan kemampuannya untuk mengobati. 

Berita ditangkapnya Setiadji karena tuduhan sebagai anggota PKI merubah semuanya. Dari hidup berkecukupan menjadi hidup serba kekurangan. Hampir seluruh tetangga tidak lagi menyapa, kami dianggap haram, mereka menghindar berjalan kaki melewati rumah kami, anak-anak perempuan Sutiadji diberi nama panggilan "pelacur". Tentara berkeliaran di depan rumah, siap menerkam siapa saja yang dianggap berbahaya menurut mereka. Berbagai celaan terlontar berulang-ulang tanpa henti, "Bapakmu PKI, mati dibunuh!". 

Siti Fatimah yang semula bertanggung jawab di urusan domestik bertambah tugas menjadi kepala keluarga. Bersama Bude Sri, mereka berdua berusaha sekuat tenaga menghasilkan uang untuk menghidupi keluarga. Seorang tetangga berbaik hati mengajarkan Siti Fatimah berjualan beras. Siti Fatimah juga berjualan kue dan masakan, salah satu ilmu yang diperoleh semenjak menikah dengan Sutiadji, dimana ia belajar memasak masakan Belanda dengan ibu mertuanya. Masakan yang dinilai enak oleh para pembeli selanjutnya menjadi sumber penghidupan. Bude Sri mewarisi kemampuan memasak Siti Fatimah, saya menjadi doyan makan sayur semenjak tinggal di Pasuruan. 

Bude Sri tidak dipecat karena sudah ada ikatan dinas mengajar. Sutiadji tidak masuk daftar sebagai anggota PKI, jadi tidak ada bukti tertulis untuk memecat Bude Sri. Tetapi Bude Sri harus menghadapi cacian setiap saat di kantornya, dituduh sebagai anaknya PKI. Le Agung yang berkarir di Telkom, susah naik jabatan karena terbentur isu anak PKI. Pakde Masykur tetap bisa lanjut berkarir di ABRI/TNI dengan memakai SK Mbah Ndut (mertuanya Bude Sri) bukan SK Sutiadji. 

"Mana makam Bapak mu? Gak ada kan, dia dibunuh karena dia PKI.", salah satu tuduhan yang diterima Le Agung.  

Siti Fatimah dan anak-anaknya dengan penuh kesabaran melanjutkan hidup. Dia tidak henti-hentinya mencurahkan doa untuk semua anaknya supaya sabar melalui cobaan ini. Doa itu yang menyelamatkan keluarga kami. Aku sangat bersyukur semua anggota keluarga Sutiadji berhasil melalui cobaan tersebut selama 32 tahun pemerintahan Soeharto. Keadaan kembali normal saat Gus Dur menjadi Presiden dengan kebijakannya menghapus diskriminasi PKI. Le Agung akhirnya bisa naik tingkat. Bude Sri menjadi lebih tenang. 

Yang tetap menjadi pertanyaan besar kami adalah kenapa Sutadji hilang. Tidak ada pernyataan resmi mengenai statusnya, tidak ada mayatnya, tidak ada kuburannya, siapa yang bertanggungjawab? Keluarga kami hanya membutuhkan cerita yang sebenarnya karena Setiadji tidak bersalah dan kami tidak mau melupakan Tragedi 1965. 

1 komentar: