Jumat, 27 Juni 2014

Keajaiban Cakar di Pasar Terong

Piyo berpose dengan baju tradisional Korea


Namanya akrab bagi telinga pendengar Radio Republik Indonesia mulai dekade 1960-an. Selama 44 tahun, setiap hari, setiap pukul 05.00 WITA, penyiar Syahril Sidik menyebut namanya sebagai salah satu dari empat pasar rujukan harga bahan pokok Indonesia. Setelah Pasar Kramat Jati Jakarta, Pasar Turi Surabaya, Pasar Medan Kota di Sumatra Utara, nama pasar di kota Makassar ini disebut. Kenalkan, namanya Pasar Terong. (Prabowo, Agung, 2013, "Pasar Terong: Dunia dalam Kota", Makassar: Ininnawa, hal. 1)  

"Buka baru, buka baru…", sahut seorang wanita muda, pemilik lapak cakar khusus pakaian wanita. Hari itu hari Minggu yang cerah, hari "buka baru", hari dimana karung-karung berisi pakaian bekas datang di Pasar Terong dan karung dibuka lalu cakar dijual dengan harga yang cukup mahal, satu gaun misalnya dihargai Rp. 45.000. Tapi memang barangnya bagus-bagus, saya sampai bengong melihat koleksi mereka. Cardigan dan gaun dari merek GAP, H&M, Elle, Uniqlo, Forever 21 mudah ditemui, tidak perlu bersusah payah mengobrak-ngabrik tumpukan baju yang digelar (seperti yang saya lakukan jika mencari pakaian bekas di Pasar Senen, Pasar TP Pagi, Pasar Gembong, Pasar Gedebage, Awul-awul di Sekaten Yogyakarta).    

Itu adalah kejutan pertama sekaligus paling memukau yang saya temukan di Pasar Terong, pasar terbesar di Sulawesi Selatan. Kios dan lapak cakar (akronim dari cap karung, cakar adalah sebutan untuk barang bekas) yang berada di sepanjang kanal dengan air yang gelap dan sampah yang menumpuk. Kios cakar juga ada di lantai dua gedung Pasar Terong, hutan pakaian dan tas bekas bagi manusia kota seperti saya. 

Saya diantara belantara baju pengantin bekas

dress-nya apik apik

Hari berikutnya saya kembali ke Pasar Terong bersama Piyo, kawan saya yang menetap di Makassar, selama di Makassar saya tinggal di rumah Piyo yang sekaligus adalah Kampung Buku. Hari ini kami berniat untuk belanja cakar karena kemarin saya baru melihat-lihat saja. Baru masuk ke mulut gang lapak cakar, kami sudah menghabiskan waktu satu jam untuk belanja banyak gaun dan celana pendek, harga mulai Rp. 5000,- hingga Rp. 20.000,-. Karena sudah hari Senin, harga telah turun. Harga paling tinggi adalah di hari Minggu karena "buka baru". Kami kegirangan karena mendapat barang bagus dengan harga yang terbilang murah, banyak sekali pilihannya sementara budget terbatas. Saya langsung terpikir untuk kulakan lalu menjualnya di Surabaya, hahhaha. 

Saya hanya melewati lapak bagian cardigan, padahal saya sudah ngiler sejak kemarin, tapi uang yang tersisa untuk membeli tas. Kami masuk ke lapak pakaian dalam, instalasi yang menarik, disana juga dijual pakaian selam. Lanjut ke lapak kain, dijual kain potongan 2-5 meter dari India, Piyo membeli selembar kain untuk dijadikan totebag. Kami berkunjung ke lapak pakaian pengantin, sejumlah pakaian pengantin menjuntai dari atap hingga lantai, juga dijual pakaian tradisional Korea dan India, yang seperti ini belum ada di Surabaya. 

Kami mampir ke lapak totebag dan syal, barangnya masih dalam kondisi bagus, saya membeli totebag seharga Rp. 10.000,-. Lalu mampir ke lapak pakaian anak, Piyo membeli sejumlah rok manis untuk Bobel, saya ikutan membeli celana pendek yang dikategorikan celana anak oleh pemilik lapak seharga Rp. 10.000,- (mereknya Forever 21). Melewati lapak kaos oblong dengan print yang menggoda, aduh kenapa semuanya bagus bagus gini. Mampir ke lapak baju renang, menukarkan uang Rp. 15.000,- dengan sebuah baju renang yang masih baru, entah mereknya apa, tapi saya suka warnanya. 

Kira-kira kami telah menghabiskan empat jam untuk menikmati dagangan cakar. Karena kios dan lapak cakar diselingi oleh lapak ikan, asam, rempah-rempah, dan sayur mayur, baunya cukup bervariasi, tidak membosankan. Belanja sambil menyahut obrolan para pedagang yang kebanyakan adalah perempuan yang sudah menikah dan mempunyai anak, jadi leluconnya soal rumah tangga. Hujan datang dan pergi, pengunjung tetap ramai meskipun siang telah menuju akhir, kami lanjut ke lantai dua gedung Pasar Terong. 

Pasar Terong, Jalan Terong

Pasar Terong yang muncul di akhir tahun 1960an, berusaha ditertibkan oleh Pemerintah untuk masuk ke dalam satu gedung empat lantai yang berfungsi tahun 1997. Namun pada akhirnya, banyak bagian bangunan tidak terpakai, terutama los lantai tiga dan empat. Menurut hitungan pedagang, banyak pembeli yang malas naik ke lantai tiga dan empat. Penempatan lokasi berjualan bagi pedagang sayur-sayuran dan ikan basah di lantai atas tidak tepat dari segi pedagang maupun kultur berbelanja pembeli, (Prabowo, Agung, 2013, "Pasar Terong: Dunia dalam Kota", Makassar: Ininnawa, hal. 7)  

Lantai dasar Pasar Terong diisi oleh kios kebutuhan rumah tangga seperti peralatan dapur, kosmetik, pakaian baru. Lantai dua dikuasai oleh kios cakar, mulai dari pakaian outdoor, tas, dan sepatu bekas. Lantai tiga dan empat kosong. Toilet di lantai dua, mushola di lantai 3. Eskalator tidak berfungsi, tidak ada lift, mempersulit mobilitas barang dagangan. Pedagang lebih memilih berjualan di luar gedung Pasar Terong, pembeli juga malas untuk naik tangga.  

Kembali ke lantai dua gedung Pasar Terong dengan arsitektur standar pasar bentukan pemerintah. Saya lebih bersemangat disini, banyak tas yang memikat hati. Setelah melewati beberapa kios, langsung menarik napas melihat tas yang sudah lama diidamkan, Fjallraven Kanken--tas sekolah anak Swedia. Karena duit cash saya telah ludes, Piyo berbaik hati meminjamkan selembar uang limapuluhribuan miliknya, langsung saya tukarkan dengan tas idaman. 

tidak kuat untuk tidak memilih

Hujan reda, siang sudah habis, kami segera meninggalkan gedung, sudah cukup (untuk hari ini) belanja cakarnya. Kami menjejak Jalan Terong dimana terhampar lapak lapak sayur mayur, buah, rempah-rempah, dan sembako. Piyo membeli bawang merah dan bawang putih sebelum harga makin naik menjelang bulan Ramadhan. Melewati hamparan beragam pisang, kemarin saya membeli satu tandan pisang susu seharga Rp. 10.000,-, murah dan enak. Duit cash di dompet saya dan Piyo kandas, tersisa Rp. 8.000,- pas untuk biaya pete-pete untuk dua orang. Bobel kami pulang!

sejumlah barang temuan saya di Pasar Terong, yay!

Esoknya, saya ke Pasar Terong lagi! Ditemani Ridho, seorang pemerhati cakar. Misi utama hari ini (karena hari terakhir kunjungan saya ke Makassar) adalah mencari jaket outdoor dan celana outdoor. Pertama kami ke Pasar Terong, langsung ke lantai dua gedung Pasar Terong, ada satu kios khusus celana outdoor perempuan! Menemukan satu celana (mereknya lupa, informasi dari Ridho mereknya terjamin dan langka) seharga Rp. 25.000,-. Tidak menemukan jaket outdoor karena kebanyakan untuk pria, kebesaran banget untuk ukuran saya. 

Bursa cakar di Makassar tersebar di banyak titik, mulai di pasar, di ruko-ruko, dan di pinggir jalan. Setelah puas keliling di Pasar Terong, Ridho kemudian membawa saya ke Sentral Cakar Ratulangi, Jalan Ratulangi. Menariknya di Sentral Cakar Ratulangi terdapat relief berbagai jenis pakaian di temboknya. Sentral Cakar Ratulangi banyak menjual jaket outdoor, saya langsung screening (istilah dari Ridho untuk melihat dengan cepat koleksi cakar yang menumpuk). Koleksinya bagus-bagus tapi ukurannya yang gak pas, jadi hanya menemukan satu jaket outdoor merek uniqlo, seharga Rp. 30.000,-. 

Kami lanjut ke titik cakar lainnya yaitu Bursa Cakar Toddopuli. Ridho sudah memberi informasi harga di Bursa Cakar Toddopuli lebih mahal dibandingkan Pasar Terong dan Sentral Cakar Ratulangi. Sebelumnya kami makan coto makassar dulu, sudah keroncongan sejak tadi. Tiba di Bursa Cakar Toddopuli langsung screening dari satu kios ke kios lain, sayang tidak menemukan jaket outdoor yang sesuai keinginan. Tapi sangat senang bisa keliling ke tiga bursa cakar, terima kasih Ridho. 

Ridho menceritakan bahwa di Pelabuhan Parepare menjadi salah satu pusat cakar di Sulawesi, disana banyak sepatu outdoor. Sumber cakar umumnya berasal dari Singapura, Jepang, Korea, dan Malaysia. Cakar termasuk barang yang dilarang dan terbatas di Indonesia. Tapi negara ini sudah akrab dengan berbagai macam barang larangan, mulai dari ganja, cakar, cd bajakan, barang palsu. Barang yang dilarang oleh negara terlanjur menjadi kebutuhan masyarakat. 

9 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Kalau Surabaya cakar yg bagus gini dimana ya mba? ada ketentuan jam-jam bukanya? Terimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. di area Tugu Pahlawan, Sabtu & Minggu, pukul 05.00 - 09.00
      dan di Pasar Gembong, buka setiap hari dari pagi sampai sore

      Hapus
  3. wah... meski sudah peringatan dr pemerintah tentang virus di pakaian bekas (cakar) tp tetap ramai peminat. hehehe...
    mampir juga yah... http://www.aga-kareba.asia/2015/02/maccakar-di-bursa-cakar-paleteang.html

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehhe yoi, yah memang bukan virus yang mematikan, asal dicuci bersih bisa aman nyaman dipakai :)
      Terima kasih link-nya sangat bermanfaat, lagi mau nulis lagi soal cakar nih :)

      Hapus
  4. wah agak susah dapat kanken dipasar secondhand :-(

    BalasHapus
  5. Klo dah sekali ke cakar...biasanya JD ketagihan....hihihi,aku dapat base layer,mid layer,outer layer Dan beberapa celana hanya Dan 200 rb ajah,padahal klo di mall beli celana satu aja ngak boleh...tp sekali Kali lah nglarisi toko pakai an lokal kita,biar ikut membantu perekonomian kerakyatan (:) catatan buat gw)

    BalasHapus