Senin, 25 November 2013

MENYEBERANG LAUTAN KENDARAAN BERMOTOR JAKARTA




"Menyeberang dengan sembarangan adalah siasat pejalan kaki."

Kalimat tersebut muncul saat saya menyaksikan karya video Sebastian Diaz Morales, seniman asal Argentina. Karya video berjudul "Jam" dipamerkan di Museum Seni Rupa dan Keramik--salah satu venue Jakarta Biennale ke-15 yang berlangsung dari 9-30 November 2013. “Jam” dipamerkan bersama empat karya berbasis proyek lainnya (Jatiwangi Art Factory & TROTOARt, akumassa, Mella Jaarsma & Nindityo Adipurnomo, M.R. Adytama Pranada) di sebuah gedung kolonial di kawasan Kota Lama. 

Morales memamerkan karya video-nya secara vertikal dengan ukuran layar sebesar papan reklame yang biasa kita lihat berdiri angkuh di jalan raya, menggambarkan kondisi Jakarta yang tidak berkutik dijejaki oleh bangunan vertikal. Jakarta adalah kota yang tidak jera dihantam jutaan penduduk dengan kendaraan bermotornya, kota yang tidak malu diselimuti polusi, kota yang tidak takut ditimpa papan reklame.

Morales memetakan sejumlah titik kemacetan Jakarta melalui karya videonya. Kemacetan adalah makanan utama kota ini. Morales memamerkan tumpukan sepeda motor, mobil, dan angkutan umum yang berdesakan di jalanan. Tidak lupa tumpukan gedung pencakar langit, jalan layang, dan papan reklame yang turut andil membuat menor wajah Jakarta. Manusia lalu bersiasat untuk tetap bertahan di tengah kepungan mesin dan bangunan.  

Morales memasukkan seorang pria berkaos putih polos, bercelana pendek, dan bersepatu kets, berjalan kaki “menembus” papan reklame, menyeberang sembarangan di jalan raya yang penuh sesak dengan kendaraan bermotor, berjalan kaki di zebra cross berpapasan dengan pejalan kaki lain dari arah yang berbeda, berjalan kaki melawan arah kerumunan peserta lomba jalan sehat, berjalan kaki melintasi jalan layang yang belum dibuka, lalu kembali lagi menyeberang sembarangan.

Sang pria berkaos putih tampak lihai dan berani berjalan kaki melewati deretan kendaraan bermotor yang berjalan terseok-seok, para pengendara motor menyebutnya sebagai kemacetan, hal yang sudah biasa bagi mereka. Sang pria berjalan kaki tanpa tengok ke kiri-kanan, langsung memotong laju mobil dan sepeda motor di jalanan, meliuk lincah diantara kendaraan, dari satu jalan bersambung ke jalan lain, ditemani kebisingan mesin sepanjang hari.

Saya menyaksikan sang pria berjalan tanpa henti dengan penuh keyakinan, pindah dari satu setting ke setting lainnya. Sang pria menembus bangunan vertikal, menantang tumpukan kendaraan bermotor lalu berpapasan dengan kumpulan manusia yang berjalan kaki saat matahari bersinar. Sang pria melawan arus utama, saat penduduk memilih berkendara sepeda motor atau mobil, dia memilih berjalan kaki. Sang pria menolak dominasi kendaraan bermotor di jalan raya karena jalan tidak hanya dibuat untuk kendaraan bermotor.         

Morales menyajikan “Jam” menjadi karya video yang nyaman untuk diamati berulang-ulang karena dengan lembutnya Morales menyulam setting satu dengan setting lainnya menjadi sebuah narasi. Menikmati “Jam” sembari nyengir mengingat pengalaman pribadi menyeberang sembarangan. Salah satu indikator dari walkable city adalah “seberapa mudahnya pejalan kaki menyeberang jalan”. Makin mudah pejalan kaki menyeberang jalan berarti makin layak kota tersebut untuk pejalan kaki.

Saat ini pejalan kaki makin susah menyeberang jalan, harus di zebra cross dengan lampu lalu lintas, dan dimaki pengendara kendaraan bermotor karena dianggap menghalangi laju kendaraan bermotornya. Jembatan penyebrangan dalam kenyataannya tidak menghargai pejalan kaki karena mereka harus naik-turun tangga untuk menyeberang. Menyeberang sembarangan menjadi kebutuhan pejalan kaki, tidak perlu tengok kanan kiri, kendaraan bermotor yang waspada dan memberi jarak kepada pejalan kaki untuk bebas menyeberang jalanan.

mari melihat proses kerja Morales : 
http://www.youtube.com/watch?v=ATfHtkGdqac





Tidak ada komentar:

Posting Komentar