Kamis, 24 Januari 2013

Panca Indra Hanyut di Keputran



Panca Indra Hanyut di Keputran
24 Januari 2013

Memulai hari dengan bertanya banyak ke Keisuke Narita dan Yuki Nakamura, mereka baru tiba di Surabaya dari Yogyakarta, transit untuk kembali ke Tokyo dengan penerbangan jam 6 pagi ini. Saya, Kat, dan Andriew dengan semangat banyak bertanya mereka aktivitas mereka di Tokyo, Kei seorang graphic designer yang mengelola sebuah infoshop bertajuk IRA, Yuki seorang zinester yang membuat zine bertajuk "pupupu" artinya kentut. Mereka anarkis, penggiat DIY, membuat Zinester Gathering--acara tahunan para zinester Tokyo di sebuah bangunan yang tidak terpakai. IRA dimulai tahun 2004, awalnya tidak banyak pengunjung, lalu Kei membuat sejumlah event, mulai klab menjahit, pameran komik, vegan night, dan pengunjung berdatangan. Sama seperti c2o library, Kat sebagai pengelola tidak menjadikan c2o library sebagai ruang laba, altruis dan membuat suatu gerakan, memberikan ruang alternatif, ruang berbagi pengetahuan dan kesukaan. Kei dan Yuki menyukai Yogyakarta dengan banyak ruang alternatif dan makanan enak, tidak lupa ciu yang memabukkan. Mereka berkunjung ke Taring Padi yang dikenal pro-rakyat melalui kesenian. Kei sempat bertanya kenapa kami dan kawan kawan Yogyakarta sangat ramah terhadap mereka, saya menjawab karena kami senang dengan orang lain (baik orang asing maupun orang Indonesia) yang memiliki minat yang sama atas kesenian dan pengetahuan yang membebaskan.

Jam 1 pagi, saya bersama Kei dan Yuki berjalan kaki ke Pasar Keputran, nyari bakso (mereka ketagihan bakso saat mencobanya di Yogyakarta) sekalian ngajakin mereka melihat keriuhan pasar Keputran. Setelah melalui trotoar sepanjang Jalan Dr Soetomo yang membahayakan, kami menjejak trotoar Jalan Raya Darmo yang lebar dan aman, udara cukup sejuk, sejumlah kendaraan masih lalu lalang, memasuki Jalan Pandegiling yang sudah dipenuhi oleh mobil pick-up dengan tumpukan sayur mayur. Selamat datang di Keputran, bau segar sayur dan buah menyertai kami. Yuki dan Kei girang melihat lapak lapak penuh sayur dan umbi umbian, Yuki berhasil menemukan petai (sebelumnya Kat menunjukkan imaji petai yang membuat kentut bau, karena Yuki bikin zine soal kentut). Masuk melalui mulut Jalan Keputran, memamerkan sejumlah rumah kolonial yang masih terawat, deretan lapak buah dan sayur yang dijaga oleh perempuan Madura, ini jalan favorit saya di kala malam, meriah.  

Mengajak mereka masuk ke Pasar Keputran Utara (ada dua bangunan pasar : Keputran Utara dan Keputran Selatan), memberitahukan untuk menyiapkan hidung karena aroma bawang dan cabai yang menusuk, dan mata karena kami akan diberkati visual yang menyala. Buruh angkut lalu lalang, bersama pengunjung lainnya (hanya kami bertiga yang turis) menjelajahi gang gang antar-stand, bertatap muka dengan para penjual yang tersenyum ke kami karena kami turis yang nyasar ke pasar, menginjak tumpukan sayur yang sudah tidak bernilai ekonomis, merekam suara musik dangdut yang berkibar di lantai dasar, terpukau dengan tumpukan wortel, brokoli, bawang bombay, cabai merah, daun bawang menciptakan komposisi warna yang meriah, mulai ketagihan dengan bau sayur mayur, terhanyut oleh motif batik Madura yang dipakai oleh kaum perempuan yang mendominasi kegiatan di pasar, terbuai dengan percakapan berbahasa Madura. 

Tidak puas dengan keriuhan di dalam bangunan, kami menelusuri lapak lapak di sepanjang Jalan Keputran yang melebar ke Jalan Kayoon, saling menunjuk sayuran yang segar dan bentuknya memukau, menunjukkan rupa singkong karena Yuki suka dengan keripik singkong. Melihat terpukau lapak tempe dan tahu yang juga adalah kesukaan kami, yah pasar ini memang menyenangkan bagi vegetarian. Ternyata di depan bangunan pasar, ada ruang bagi para pedagang ikan dan daging sapi, tidak terlalu besar, tapi baru liat aja. Kami mampir ke taman Kalimas, yang memang mepet dengan Pasar Keputran, taman cantik dengan pemandangan Kalimas--sungai penting era Majapahit hingga tahun 30an--dan apartemen pertama di Surabaya yang berada di Jalan Irian Barat. Saya berbagi isu mengenai relokasi Pasar Keputran Utara yang bisa dibilang sebagai pasar induk Surabaya ke wilayah pinggiran kota, mengingat lokasi Keputran adalah di pusat kota, dan terlihat akan dibangun semacam pusat perbelanjaan modern disamping Pasar Keputran Utara, dan sepertinya masih terjadi penolakan atas rencana relokasi.            

Saatnya nge-bakso, kami menemukan satu satunya gerobak bakso di Jalan Keputran, mengokupasi trotoar seperti pedagang lainnya. Pemilik gerobak bakso bernama Heri, sudah berjualan bakso sejak tahun 80an, berdomisili di Texas alias Gang Dolly. Yuki dan Kei memesan porsi lengkap (bakso kasar dan halus, tahu, bihun, gorengan, lontong), saya pesan tanpa bakso (dasar vegetarian palsu). Dengan sigap, Heri meracik pesanan kami, sambil sedikit berbahasa Inggris, maklum ada turis yang menyambangi gerobaknya. Heri meyakinkan kami bahwa bakso nya tanpa borax, selalu memakai daging segar, tampaknya Yuki dan Kei tidak mempermasalahkan makanan kaki lima, di Tokyo gerobak semacam bakso adalah jarang, jadi meeker senang dengan kedai bakso di jalanan Surabaya dan Yogyakarta. Satu yang lucu adalah bakso yang umum dijual di Indonesia adalah olahan daging sapi, padahal bak sendiri artinya daging babi. Kei dan Yuki tampak kekenyangan karena diberi porsi yang besar, saya juga ikutan lega karena memang sejak tadi kelaparan.  

Berjalan kaki kembali ke peraduan, c2o library. Melewati perempuan perempuan Madura yang tertidur di belakang lapak menunggu pembeli yang belum datang, memandang kembali sejumlah bangunan kolonial, mengintip beberapa gang yang sepi, kembali ke Jalan Pandegiling. Saya memamerkan hotel Olympic--hotel pertama di Surabaya yang diresmikan oleh Soekarno--dengan arsitektur jengki, bangunan hotel bagaikan buritan kapal, sangat menarik. Yuki merekam lalu lintas di Jalan Raya Darmo, sejumlah peseda malam melintas, sepeda motor dengan bak penuh dengan sayuran mewarnai jalanan, sudah merindukan keriuhan Keputran.    


Tidak ada komentar:

Posting Komentar