Kamis, 24 Januari 2013

FILASTINE "£00T Tour" in Surabaya




Part 1 : No Cart No Gig

Surabaya, 17 Januari 2013

"no cart no gig" tercantum di technical rider Filastine--group music politic electronic eksperimental yang berbasis di Barcelona dan Malang. Kami--gig organizer--berharap mendapatkan pinjaman dari kenalan yang menjadikan shopping cart sebagai salah satu koleksi yang dipajang di kamarnya. Terbayang adegan pencurian shopping cart seperti di film film Barat, kami yakin ada seseorang yang berhasil mencurinya, ternyata tidak kami temukan. Setelah urusan venue dan sound system yang membuat otak dan hati saya ciut karena baru bisa mengurusnya H-7, setelah saya baru tiba dari Semarang lalu jatuh sakit, sementara Alek sedang di Malang, Faris pindah ke Yogyakarta. 

Memilih venue juga adalah proses panjang, menyesuaikan dengan kebutuhan audio-visual Filastine, survei ke beberapa cafe, mencoba melobi Galeri Surabaya dan berhasil mendapatkan dukungan, tapi jadwalnya berbenturan. Faris menyarankan Nen's Corner, dia kenal dengan Ayu--adik pemilik, sejumlah gig juga pernah digelar disana, kami pun mencobanya, dan puji semesta Nen's Corner bersedia menjadi partner kami, bahkan menyewa dua alat yang wajib kami sediakan untuk Filastine : dua SHURE SM 57. Barang apaan tuh? Baru kali ini saya memastikan detil alat dan sound, biasanya ada kawan kawan yang membantu handle sound system, tapi kebetulan mereka sedang tidak bisa, jadi saya baru ngerti deh mana itu monitor, front of house, subwoofer, kabel XLR, kabel TRS, stall boom, mic vokal berbeda dengan mic instrumen, mic instrumen harga sewanya mahal. SHURE SM 57 adalah mic untuk instrumen, Filastine menggunakan perkusi dan sejumlah alat musik analog, jadi memang harus pake mic instrumen biar keluar suaranya, dan itu baru saya ketahui, saya memang payah, kepedean jadi gig organizer, soal mic aja gak ngerti. 

Venue dan sound system udah beres (makasih banget untuk Ayu, Pak Aconk, Pasca, Kemal). Sekarang mikirin shopping cart! Pagi pagi belum sarapan (yang penting udah mandi) sepedaan ke Morin (beli roti gandum) lalu ke Bilka--swalayan lokal favorit karena menjual barang barang lokal yang gak ditemuin di supermarket--bermaksud mengajukan permohonan peminjaman/penyewaan shopping cart. Menuju kantor Bilka, mengantri bersama sejumlah marketing dan supplier, akhirnya giliran saya. Menumpah sejumlah kalimat pembuka, mengajukan permohonan peminjaman/penyewaan shopping cart, eh saya malah dikiri mau nawarin shopping cart ke mereka, dan hasilnya tidak berhasil, sang pemilik tidak berminat meminjamkan shopping cart ke pihak lain jika tidak ada kaitannya dengan Bilka, lalu lesu menuju digital printing terdekat, mencetak sejumlah poster FILASTINE "£00T Tour". 

Bersepeda ke Pasar Gembong--pasar barang bekas, langsung ke lapak langganan, ternyata shopping cart sudah terjual bulan lalu, belum ada stock yang baru, huhu. Mampir ke cosmic, aiola, garlic, ore, menyebarkan poster. Kembali ke Jalan Raya Kertajaya, ke Toko Pelangi yang menjual perlengkapan display, dijual shopping cart seharga 650ribu, huhu menuju c2o library untuk mikir, sepanjang melewati swalayan lokal, melihat shopping cart berjejer, pengen bawa lari satu biji. Aga Terkapar memberikan informasi bahwa shopping cart bisa dipinjam di Giant dengan meninggalkan KTP dan dengan alasan untuk keperluan shooting filem, ok saya menuju Giant Diponegoro. Masuk kantor, dapat info untuk CP, telepon beliau, dan saya diminta menyiapkan surat permohonan kepada store manager, kembali ke c2o library, bikin surat, Kat membantu ngeprint, saya kembali ke Giant, bertemu dengan sang CP. 

Lumayan yakin akan mendapat persetujuaan dari Giant, tapi setelah lobi sana sini ternyata gagal, sang store manager tidak mau mengambil resiko kerusakan dan tidak ada hubungan kegiatan pertunjukkan musik yang saya kerjakan dengan Giant, karena sang CP sangat jelas dan sopan menjelaskan keputusan mereka, sangat menerimanya dengan lapang dan mengucapkan terimakasih banyak karena mereka menyediakan waktu untuk urusan ini. Kembali ke c2o library dengan perasaan datar, curhat ke kawan kawan ayorek yang sedang meeting di c2o library, mereka menyarankan untuk melobi Toko Pelangi supaya menyewakan shopping cart. Kat dan Erlin cerita kalau di New York dan Sidney, shopping cart berkeliaran dimana mana, pemandangan umum melihat seorang mendorong shopping cart yang penuh dengan belanjaan dari supermarket ke apartement-nya. Bayu menimpali, shopping cart di supermarket Indonesia dijaga cukup ketat, gak bisa dibawa keluar dari zona yang ditentukan, susah banget untuk mencurinya, ternyata Bayu pernah gagal mencuri shopping cart. Saya juga gak berani nyuri shopping cart, payah. Menutup hari ke Nen's Corner untuk follow up, dibantu banyak oleh Ayu.     


Part 2 : The Gig

Surabaya, 18 Januari 2013
Bangun agak siang, segera mandi dan ke Toko Pelangi. Melobi sang pemilik, mendapatkan harga sewa 150k, gak bisa ditawar, saya mengangguk lega. Kat membantu mengangkut shopping cart, namun sayang kami lupa "mengamankannya", shopping cart membaret kaca mobil Kat. Jam 3 sore rombongan Filastine sudah tiba di c2o library. Bertemu kembali dengan Nova Ruth, berkenalan dengan Grey Filastine, dan dua Australian: Francis dan Jared. Geng Filastine terkesima dengan c2o library, dengan koleksi bukunya, namun kami tidak bisa bersantai atau minum teh dulu, langsung ke Nen's Corner untuk sound check.  

David, Kemal, Eko, Theon, Adi, Sonny telah menunggu kedatangan kami di Nen's Corner, dengan bantuan Pasca sebagai sound engineer dan Pak Aconk serta Krisna yang menyiapkan kebutuhan panggung, sound check berjalan mulus dan cukup lama, meskipun suara yang keluar tidak maksimal, tapi tetap kami beruntung akan menyaksikan penampilan Filastine malam ini. Kecemasan saya pudar, Nova dan Grey beradaptasi dengan peralatan yang kami sediakan. Sambil melihat proses sound check, saya mengobrol bersama Pak Aconk--General Manager Nen's Corner--dan Nova. Ternyata Pak Aconk adalah manager Karpet--band legendaris asal Surabaya, tumpah segala cerita gila soal Karpet, saya yang belum pernah melihat langsung Karpet diatas panggung maupun diluar panggung terpukau dengan cerita cerita Pak Aconk. Nova gantian bercerita mengenai aktivitas nge-rap nya bersama Twin Sista awal tahun 2000an, dimana X-Calibour dan banyak grup hip hop Surabaya lainnya bersatu sangat memeriahkan skena musik di Surabaya, saya tidak berada di dua masa bersejarah tersebut. 

Yuli menelpon, c2o library kedatangan dua Nippon yang adalah kawan Filastine, bersepeda kembali ke c2o library, menjemput mereka untuk bergabung dengan kami di venue. Nama mereka Keisuke Narita dan Yuki Nakamura, kami berjalan kaki ke Nen's Corner, sepertinya jalanan Surabaya cukup berbahaya bagi mereka, yah dengan trotoar yang tidak layak, dua Nippon cukup cepat beradaptasi dengan kekejaman lalu lintas di sepanjang Jalan Dr Soetomo.     

Sudah jam 7 malam, pertunjukkan harus mulai tepat waktu jam 8 malam dan selesai jam 11 malam karena ada band residen yang juga tampil setelah gig kami. Saya mengajak rombongan Filastine ke Ore, kami berjalan kaki kesana, cukup membuat lelah Grey karena kakinya masih terluka kena paku di Malang dan Nova sedang sakit perut, maap yah mengajak kalian para tamu berjalan kaki. Rombongan makan di Carpentier, bertemu Alek disana, dia akan membantu transportasi para tamu. Saya kembali ke Nen's Corner, jam 8 malam kami siap membuka FILASTINE "£00T Tour" in Surabaya. Kawan kawan berdatangan, Naik Delman menjadi penampil pembuka, Eko Ende tampil tanpa Kadeer, pertunjukkan musik elektronik dimulai! Set berganti ke Electrogue, David menyambut banyak kawan yang mulai memenuhi venue, saya pun membalas dengan senyum kehadiran mereka, yah malam ini untuk kalian. Brother D mengambil alih set ditemani oleh David. Sempat cemas karena personel X-Calibour belum lengkap tiba di venue, lalu lega setelah 3 MC (Adi, Sonny, …..) dan David membantu memainkan CDJ, dan penonton menyambut dengan semangat aksi mereka yang mungkin semacam reuni karena mereka sudah lama tidak manggung, "hip hop lepas kerja" celetuk Phleg.

Mic beralih ke Eri Rukmana, mencurahkan pendapatnya mengenai Filastine sementara Grey mempersiapkan semua alat, tidak lama Filastine mulai menumbuk kami dengan sound dan visual yang membuat badan joget dan otak mikir. Filastine adalah audio-visual artist, untuk album ketiganya "£00T" berkolaborasi dengan Nova Ruth, yang adalah kekasihnya. Sekitar satu jam Filastine memberikan kembali ke publik hasil observasi dan pemikirannya atas Indonesia dan krisis dunia, berasa semacam presentasi project, transnational bass music (mulai dari Indonesia, Timur Jauh, sampai Eropa). Dubstep berbaur dengan musik analog dari perkusi, pianika, dan shopping cart menjadi instrument seperti perkusi dan bersinkronasi dengan visual yang menggugah emosi mengenai kota, protes, alam semesta. Nova mengisi vokal, beradu perkusi, membisikkan isu krisis dunia yang melanda Eropa dan Amerika, menyebarkan uang buatan sendiri, utang melilit manusia, Colony Collapse.   

Tepuk tangan dan salute untuk Filastine menjadi penutup gig, banyak kawan membeli CD Filastine yang dijual 50k. Bintang sempat menanyakan perihal gerakan Occupy di Barcelona ke Grey. Dengan keringat masih mengucur, Grey menginformasikan gerakan Occupy masih berlanjut, mogok massal dilakukan berkali kali, membahas singkat David Graeber dengan bukunya yang fenomenal : Debt, The First 5000 Years, lalu kami makan nasi goreng dan minum bir yang disediakan oleh Nen's Corner. Grey dan Nova sempat membahas respon yang baru mereka temui sepanjang ratusan konser yang mereka lakukan di seluruh penjuru dunia, baru kali ini di Surabaya mereka mendapat respon yang janggal dari para penonton. Penonton Surabaya terbilang diam, hanya sedikit yang menggerakkan badan menikmati beat, teriakan teriakan yang tidak sesuai dengan konteks, Grey menyebutnya sebagai cacian atas Filastine (kami berharap teriakan semacam : "hancurkan pemerintah, bebaskan rakyat", yang ada adalah teriakan macam "waktunya isya" karena Filastine seperti memukul bedug), meskipun kami yakin semua yang datang menyukai pertunjukkan Filastine. Grey menduga beberapa penonton "memaki" karena tidak nyaman dengan venue yang adalah pub, tidak nyaman dengan isu yang dibawa karena memang kami Indonesia tidak mengalami secara langsung krisis global, tidak nyaman dengan keapatisan atas isu sosial politik, atau apa?

Setelah gig berakhir saya pun baru sadar, saya sedang bersama rombongan "anarkis" dari Barcelona, Malang, Melbourne, dan Tokyo. Karena Nova dan Grey sedang tidak dalam kondisi badan yang fit, mereka menginap di rumah Alek, sementara yang lainnya "terpaksa" bermalam di c2o library karena losmen Mini Ayem tidak menerima turis asing (saya baru tahu kalo hotel melati di Surabaya tidak boleh menerima turis asing). Kawan kawan Kinetik dan Bintang berkunjung ke c2o library, berharap kami bisa melanjutkan omongan mengenai gerakan Occupy bersama Grey, tapi sayang Grey harus menginap di rumah Alek demi kesehatan. Nova segera ke UGD, doi terpaksa diberi oksigen karena kemungkinan penyakitnya cukup mengkhawatirkan, ternyata Nova punya track record yang cukup parah, masalah paru paru, infeksi usus, maag, terbayang berat perjuangannya untuk melakukan tur Eropa dan Asia. 

Frans, Jared, Yuki, Kei saling bertukar kegiatan dan pemikiran mereka, saya mendengarkan, Jared dan Frans aktif di sebuah ruang alternatif bertajuk Irene's Art Warehouse di Melbourne yang aktif melakukan protes terhadap industri nuklir dan furniture yang merusak alam. Kei mengelola infoshop bertajuk IRA (Irregular Rhythm Asylum) dan membuat Zinester Gathering di Tokyo, Kei dan Yuki adalah gig organizer Filastine di Tokyo, saya dapat cerita bagaimana mereka mendapatkan shopping cart, mereka menemukannya di pantai, tertimbun pasir. Besok pagi duo Nippon akan ikut Filastine ke Ubud untuk tur selanjutnya, duo Australia ke Yogyakarta bertandang ke Taring Padi. Sampai lelah, kami mulai beristirahat, kemping di c2o library, satu gig satu tahun sepertinya cukup. 

Terimakasih untuk c2o library, BASSTERD Foundation, ORE, Nen's Corner 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar