Minggu, 09 September 2012

hari minggu lainnya




Minggu, 9 September 2012

alarm pagi ini tidak mengganggu malah membuat saya senang, jam 5 pagi bersiap untuk bersepeda ke kota lama Surabaya. Di luar sudah terang tapi matahari belum pamer diri. Keluar dari Gubeng Airlangga memakai sepeda lipat milik c2o library, masuk ke Jalan Pemuda lalu Jalan Yos Sudarso yang lenggang, warga kota lumayan banyak yang olahraga pagi di taman balai kota yang sekarang dikenal sebagai alun alun kota Surabaya (bener gak?). Melewati Jalan Walikota Mustajab dan masuk Jalan Genteng Kali, lalu beristirahat di Taman Ekspresi. 

Disambut instalasi bentuk boneka besar yang tidak melegakan mata (maaf yah buat seniman Surabaya yang buat tuh karya). Di muka ada signase bahwa taman ini terbuka untuk umum dan gratis dan tutup pukul 19.00. Parkir sepeda di tempat parkir sepeda yang sekarang tersedia di hampir semua taman kota. Pemandangan adalah Kalimas yang tidak bisa dibilang bersih, lalu instalasi instalasi yang tidak melegakan hati, instalasi yang serupa di Taman Apsari, bahkan ada diorama masyarakat primtif, masyarakat feodal, dan masyarakat religius, huhu aneh! tapi lumayan banyak tempat ngumpul setengah lingkaran, semacam teater terbuka, ahh bisa juga nih dipakai untuk Piknik Akustik. Playground juga mengundang hati untuk turut bermain bersama anak anak yang pagi itu sibuk bermain prosotan dan ayunan. Ada toilet, perpustakaan, wah taman yang cukup memanjakan, tinggal berharap Kalimas tidak melulu dicemari.

Bersepeda kembali ke Jalan Praban, masuk ke Jalan Bubutan dan waw tiba di pasar kaget di sekeling Tugu Pahlawan yang sudah berubah tempat, tidak lagi di trotoar Tugu Pahlawan tapi di sebrangnya, jadi lebih nyaman. Melintas TP 5, pengen mampir tapi saya pikir pikir saya belum butuh baju lagi. Masuk Jalan Karet yang memamerkan produk olahan karet ban bekas, menembus Jalan Bibis dan masuk Jalan Coklat, pastinya melewati Kelenteng Coklat yang merah nan sepi. Asjik banget nih pagi pagi jelajah Jalan Slompretan, sepi gituh, hanya beberapa wanita Tionghoa yang berjalan pulang habis belanja sayur mayur, biasanya nih jalan padat banget. Mengarungi lebarnya Jalan Kembang Jepun lalu masuk Jalan Dukuh menuju Jalan KH Mas Mansyur. Asjik juga nih pertama kalinya pagi pagi jelajah kota lama, pemandangan yang berbeda, biasanya siang sampai malam kalo jalan kesini. 

Sepanjang Jalan KH Mas Mansyur digelar banyak lapak dari baju bekas sampai onderdil sepeda motor, tidak lupa muncul kuliner pagi : gule maryam. Saya memilih kedai yang teramai, pasti dijamin enak (saran dari Yuli), pesan satu roti maryam, pengunjung lainnya memesan porsi lengkap : lontong, gulai kambing, dan rot maryam, aduh liatnya udah tidak bernafsu, saya memang sampai saat ini belum terbiasa dengan kebiasaan makan pagi yang super-berat. Saya duduk di kursi plastik yang tersisa, setelah menerima sebuah roti maryam yang hangat dari sang penjual--ibu ibu keturunan Arab kayaknya. Merobek dengan nyaman sang roti, menikmati gurih dan margarin yang berlebihan, hehhe nikmat. 

Menikmati Jalan Panggung yang menyisakan bau amis sisa pasar ikan semalam, menembus Jembatan Merah, masuk Jalan Jembatan Merah, menjumpai kembali TP 5, tiba di Jalan Pahlawan, menikmati pelan pelan bangunan kolonial yang tersisa diantara ruko ruko modern, kapan kapan mau jelajah Kampung Bubutan! Setelah Jalan Gemblongan saya bergabung dengan pesepeda lainnya menikmati car-free-day di sepanjang Jalan Tunjungan, hanya ada stand sepeda Polygon yang meramaikan, kalah ramai dengan pengunjung car-free-day di Jalan Raya Darmo. Saya bertemu dengan Tommy, kawan saya anak Antropologi yang adalah wartawan Jawapos, dia sedang liputan, saya mengabarkan kehadiran Tom Boellstorff di c2o library pada tanggal 26 September 2012.

Jalan Tunjungan sudah habis, kembali bergabung dengan kendaraan bermotor di Jalan Gubernur Suryo, masuk kembali ke Jalan Yos Sudarso dan terjadilah tabrakan antara dua sepeda motor yang berada tepat di belakang saya, saya hanya terkena sedikit sentakan, berhenti dan bersyukur saya baik baik saja, uhh memang benar penyebab terbesar kecelakaan sepeda adalah ditabrak kendaraan bermotor di jalan raya. Menuju Jalan Raya Gubeng dan parkir di depan kedai susu langganan di Pasar Gubeng, memesan segelas susu segar dengan sedikit gula, menikmatinya sambil baca koran JawaPos--koran favorit sebagian besar warga kota Surabaya--yang disediakan oleh pemilik kedai, menbaca sekilas headline hari ini mengenai korupsi PON Riau dan membaca habis resportase pameran di Berlin oleh Afrizal Malna. 

Susu segar hangat sudah kandas, bergegas ke Pasar Gubeng membeli telur untuk makan siang lalu bersepeda pulang ke kost. Melanjutkan aktivitas domestik : mencuci baju dan memasak pasta telur untuk bekal makan siang. Siang sudah datang, cucian baju selesai, pasta telur tertata rapih di kotak makan, lalu mandi. Bersepeda ke PINK, salah satu tempat favorit saya, sebuah tempat fotokopian yang keren dan hangat, saya menambah pesanan fotokopi buku, lanjut ngeluyur ke Rumah Buku berniat mencari peta Surabaya untuk proyek AYOREK. Cukup lama tidak bertandang ke Rumah Buku, yah komik Epileptik sudah tidak ada di-display lagi, langsung naek ke lantai 1 dan ngubek ngubek peta, tapi gak nemu peta Surabaya, ternyata stocknya habis. Langsung ke toko sebelah : Uranus--toko buku lokal yang sudah lama menjadi bagian dari kota Surabaya. Ditemukan peta Surabaya seharga 15ribu rupiah, bayar di kasir, lanjut bersepeda ke c2o library. 

Huhu berisitirahat sejenak di perpustakaan tercinta sambil melihat Charlie dan 3 bayinya berkeliaran, setelah menghabiskan satu buah pisang aroma saya berjalan kaki ke Tunjungan Plaza, hari ini adalah hari terakhir Pekan Komik Nasional 2012, kebetulan ada sesi bincang bincang bersama Akademi Samali. Saat berjalan di trotoar Jalan Basuki Rahmay terlihat bangunan Hotel Cendana, teringat pesanan Pakdhe Tono, beliau minta dibelikan CD rilisan GKI Tiberias, bandnya anaknya Pendeta Yesaya Pariadji, belinya di Toko Immanuel, di depan Hotel Cendana. Saya pun belok kiri menuju Hotel Cendana lalu menemukan dengan mudah Toko Immanuel, wuihh baru pertama kali nih saya ke toko yang disini, yah sudah culup lama juga saya tidak bersentuhan dengan aktivitas rohani, sang petugas mempersilahkan saya ke lantai atas tempat display CD, nyampe atas disambut layar TV datar yang memamerkan video sebuah band yang terkenal di kalangan anak muda Kristen : Hillsong yang dengan syahdunya bernyanyi : your love it knows no end....dan saya pun langsung terharu, yah saya menyukai lagu lagu rohani kekinian semacam itu, full band, mulai dari sitar sampai biola, vokal yang apik, lirik yang menggugah. Setelah konfirmasi sana sini akhirnya ditemukan nama band anaknya Pendeta Yesaya Pariadji adalah Boanarges, tersisa satu CD, saya ambil, bayar di kasir, dan meninggalkan toko yang penuh dengan pernak pernik Natal. 

Tiba di Tunjungan Plaza, terlihat jelas perhelatan Pekan Komik Nasional 2012, Hikmat Darmawan (baru pertama kali liat nih orang) tengah mempromosikan bukunya : How To Make Comics. Disambut oleh Timmy yang menjadi emse, duduk di barisan paling belakang, lumayan banyak pengunjung, di panggung juga ada Yudis dan Beng Rahardian, ternyata disebelah saya adalah istrinya Yudis yang sedang menyusui bayinya, hehe saya tidak mengenali karena dia jadi subur setelah melahirkan, Beng Rahardian lanjut mempromosikan Kompetisi Komik Indonesia yang merupakan kerjasama dengan Kementrian Ekonomi Kreatif. Chandra teman saya lulusan Fakultas Kehutanan UGM yang baru pindah ke Surabaya sebagai kelas pekerja, dia datang bergabung, wah Chandra memotong rambut panjangnya, yah iyalah udah kelas pekerja, Chandra penggemar komik, jadinya asjik kalo ketemu dia. bersua juga dengan kawan kawan komikus Surabaya : Dimas, Is Yuniarto, Jhon, Berny :D

Setelah berkeling booth para komikus (tanpa membeli komik atau merchandise) saya meninggalkan Tunjungan Plaza, sebenernya sayang juga PKN diadakan disana, cukup terganggu dengan keriuhan mal dan venue yang terbilang sempit. Sore datang, saya dan Chandra berpisah, berjalan kaki kembali ke c2o library menghabiskan hari disana. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar