Senin, 06 Agustus 2012

drama 6 hari


foto charlie yang sedang hamil muda


Blitar, 13 Juli 2012
Sejak pagi saya dan Iwan keliling Kecamatan Sananwetan, kami observasi ke Istana Gebang--rumah keluarga Soekarno, Makam Pangeranan--makam keluarga Bupati Blitar, SDK Santa Maria yang sangat menyenangkan dengan pekarangan yang nyaman mengingatkan kembali kehangatan yang saya alami selama 6 tahun bersekolah di sekolah dasar katolik di bilangan Bintaro. Kami lanjut observasi ke markas TNI AD Yonif 511 dan menemukan sumber mata air yang aliran airnya deras dengan dilindungi oleh pohon beringin, ya ampun mata air di daerah perkotaan adalah sebuah anugrah! Sudah jam 11 siang, jadwal bis ke Bandung adalah 30 menit lagi, wuahhh dan kerjaan saya belum selesai, huhu tiket sih udah di tangan tapi kerjaan masih di depan mata. Iwan memaklumi saya yang akan pergi ke Bandung, jadi setelah kami mengumpulkan data di Yonif 511, doi mengantarkan saya ke kost lalu menuju shelter bus di Jalan Bali, huh saya tidak ketinggalan bis. 

Saya naik bis Kramat Djati, duduk di kursi no 8 sebelahan dengan jendela, bisa puas memandang jalanan, pak supir menyetel lagu lagu Slank, saya pun masih deg deg-an, saya akan menuju Bandung dengan bis untuk pertama kalinya, kehabisan tiket kereta, naek pesawat kemahalan, yang penting saya menuju Bandung Zine Fest. Rute bis lewat jalur selatan, tiba di Kediri sekitar jam 1 siang, para penumpang mulai memenuhi kursi kursi, sejam kemudian tiba di Nganjuk--kota angin, tidak lama bis memasuki kawasan hutan di Saradan, lalu masuk Madiun. Jam 5 sore memasuki Ngawi--tanah kelahiran Umar Kayam yang juga menjadi setting Jalan Menikung. Bis memasuki pemberhentian pertama di Sragen, wah melewati tanda arah Sangiran, saya belum pernah ke situs purbakala tersebut! Makan malam dengan nasi pecel dan tahu bacem, makan dengan lahap karena tadi tidak sempat makan siang. Kembali masuk ke bis, huhu lampu dimatikan saat perjalanan, tidak bisa membaca buku, untung saya bisa tidur. 

Opet mengirim pesan singkat, bukunya yang saya pinjam : Etalase - Ugoran Prasad" yang saya titipkan di c2o 
opet : hoi tin, sori aku belum sempat ke c2o. biasa kerjaan. km masi di blitar?
tinta : sedang menuju bdg, naek bis dari blitar, bdg zine fest. mungkin 19 juli ke sby, maap kemarin bener2 gk sempet mampir ke kost mu krn langsung ke c2o 
opet : wow asik. iya gpp. have a nice trip :)
tinta : trip curi2 pas kerjaan lagi memuncak di blitar..jadi hanya semalam di bdg dan langsung balik ke blitar, senang2 yg penuh pengorbanan, btw akhirnya baca etalase
opet : aku kalo lg stress baca itu sih makanya skrng butuh haha. bagus ga?
tinta : tambah minta maap krn etalase belum kembali padamu..bagus tapi aku gk ngerti gmn hub kara ana eva hehe novel susah, banyak ide brilian spt kara yg lain 
opet : itu kyk ngilangin karakter gitu deh. jd lama2 kabur gitu yang mana ini dan itu. menurutku sih hehhe
tinta : dan sangat menghargai ugoran menulis tiap kalimat dalam etalase adalah puitis, semoga malam ini kamu berisitirahat dgn nyaman, sampai jumpa ya!
opet : okeoke, see ya :)

Malangbong, 14 Juli 2012
Terbangun sekitar jam 5 pagi, bis sedang posisi berhenti karena mobil di depann tidak juga bergerak padahal ini jalanan mendaki, ternyata macet, wah kenapa pake macet segala, di Jawa Timur dan Jawa Tengah cukup lancar, ehh masuk Jawa Barat malah disambut kemacetan, yah menikmati matahari terbut sambil melihat tumpukan bis pariwisata dan mobil pribadi yang kebanyakan berplat B, buset nih orang Jakarta pada liburan semua! Wuahh akhirnya jam 7 pagi bis terlepas dari kemacetan dan tiba di Garut, pemberhentian kedua, saya langsung menuju WC umum. 

Bandung, 14 Juli 2012
Akhirnya sampai di Bandung, menempuh 22 jam! Bis berhenti di Jalan Ambon, sudah jam 10 siang, saya kelaparan, liat peta Bandung, berjalan kaki ke arah GIM, menemukan depot nasi kuning di Jalan Sunda, saya pesan nasi kuning dan susu segar, benar benar menu yang menyelamatkan perut. Lanjut mencari warnet, tapi gak nemu, baru nemu di Jalan Kebon Sirih, mengecek daftar pekerjaan, Bebe dan Panji sudah menanyakan keberadaan saya, jam 1 siang saya baru sampai di Gedung Indonesia Menggugat (GIM). Menemukan Acil yang sedang menata lembaran kertas fotokopian dengan gambar Bandung Zine Fest dijadikan sebagai photo booth, senang sekali melihat dia sangat bersemangat mengerjakan Bandung Zine Fest, masuk ruang utama melihat Manan, anak anak Primitif Zine sedang menata lapak, yah saya sangat merindukannya. Berkenalan dengan Caca dan mendapatkan Primitif Zine vol 006 yang diluncurkan bersamaan dengan festival ini. 

Ika Vantiani sudah siap duduk manis di lapaknya, wuihh deretan Zine yang dijualnya sangat menggoda, saya memilih untuk mandi dulu. Kamar mandi di GIM sip lah buat mandi, kembali segar setelah diguyur air Bandung dan Ababil Ashari sudah datang, heheh doi lebih gemuk ketimbang terakhir kami bertemu dua tahun lalu di Surabaya, hari ini dia sedang tidak bertugas di Rumah Sakit Dr Hasan Sadikin, jadi dia bisa menghabiskan sore di GIM. Menikmati semua pernyataan dan pertanyaan (yang lebih sering dijawab sendiri olehnya) yang tercetus cepat dari mulutnya, yeah Ash adalah genius! Salah satu kegundahannya adalah dia belum menemukan lagi musik lokal yang seru, semuanya derivatif, belum ada lagi yang menerapkan STEAL MIX BURN, saya hanya bisa mengangguk angguk. 

Bebe datang, saya menumpak lapak iMbooks, menaruh sejumlah halimun *14 yang juga diliris di festival ini dan Sub Chaos #12 karena ada beberapa kawan yang minta. Bebe juga bikin Zine : Doleng, juga ada zine yang dibuat oleh Komunitas Taman Kota, Bebe, Panji, Osman menjadi bagian dari proyek tersebut, saya suka gagasan mereka yang memamfaatkan taman kota bagi anak anak dan kita sendiri sebagai warga kota. Bebe memberikan hadiah emblem untuk saya dan Kuro, kami berdua menyukai karya karya Bebe. Saya dan Ash keliling melihat lapak Zine yang sudah memenuhi ruang utama, saya bahagia melihat banyak sekali zine, saya mengambil yang bisa saya ambil, saya ambil Paper Zine, Zine Ruang Kecil, Seputar Berputar, Metal Bike, Teeny Weeny Todler, Salah Cetax. Berkenalan dengan Abod--salah satu personel Sangkakalam, saya diberi From Our Scene. Membeli The Loneliest Profession in the World di lapak Ika, doi yang merekomendasikan kumpulan puisi ini, judulnya memang sudah meyakinkan saya untuk melahapnya. 

Menikmati taman bacaan, Deden sang kolektor benar benar murah hati dan berbudi mulia memamerkan koleksi Indonesian Zines dengan tata letak yang oke dibuat melingkar dengan tumpukan paving sebagai kaki meja, tersedia juga banyak Zine yang dikategorikan menjadi : HC/Vegetarian ZIne (pastinya ada Betterday, hehe lucu juga HC dan Vegetarian dijadikan satu kategori), Personal Zine (ada kesukaan saya : Bunpai Suru), Indie-pop Zine (menemukan Bystanders, Shine, dan yang bikin kaget adalah : Poolcat--Zine besutan Pindang tahun 2001, saya harus memfotokopi Poolcat, dokumentasi penting bagi Surabaya), dan tentu saja Punk Zine. Di ruang tersebut juga tersedia PC dengan koleksi Zine versi PDF, dengan hati gembira saya menyedot beberapa file. Melompat ke ruang di sayap kanan adalah display cover artwork Indonesian Zines, yang bikin kaget nan senang adalah dipajangnya cover Zine//Picnic yang dibuat oleh Redi Murti.    

Kopi darat dengan Alfian--founder Lemari Kota (webzine dan netlabel), dia juga bikin Bungkam Suara, Ash langsung mengomentari nama Lemari Kota : nama yang tidak ok untuk suatu proyek yang di-share di Internet heheh suatu komentar yang tepat. Berkenalan dengan Tommy empunya Salah Cetax, wah satu hal yang sangat menyenangkan adalah berkenalan dan ngobrol dengan para pembuat Zine. Seorang pria menyapa saya, dia berkacamata dan memakai koos hitam, wuahh saya tidak mengenalinya, ternyata Lambang, alamak kok saya bisa payah banget lupa mukanya, pembelaan saya adalah gak papa lupa muka yang penting selalu ada di hati (beneran nih). Lambang sengaja datang dari Sukabumi untuk Bandung Zine Fest, senang sekali bertemu dengan dia kembali, jurnalis muda handal. Saya langsung mengabarkan ke Luhur mengenai pertemuan kami, pengen ngasih tahu Maria juga tapi Maria di Norwegia. 

Sore datang pengunjung makin banyak yang datang, yeah ini festival yang menyenangkan, banyak kawan lama dan baru yang saya temui. Fuad, Sinta, dan Panji menyapa hangat saya, berharap saya punya kesempatan lagi menikmati hari bersama mereka di Bandung. Fuad akan sidang skripsinya hari Senin mendatang, Sinta malam ini akan menuju Mojokerto, Panji cerita Spiritual Mammals kembali aktif lagi, mereka adalah kesayangan saya. Tito Armando menemukan saya di tengah kerumunan pengunjung, saya langsung memberikan pesanannya : kopi Berontoseno. Wah ternyata Toro Elmar datang dan membuka lapak untuk Rally The Troops--penerbit independen yang dikelola oleh Toro, Toro mengurus tapi terlihat sehat, sudah lama tidak bersua dengannya, saya membeli Life #2, siapa yang tidak menyukai graphic diary yang dibuat oleh Toro. Di tengah kerumunan, saya kopidarat dengan Aldiman Sinaga, dengan membawa backpack dan koper yang pastinya berisi banyak Zine, dia baru sampai di Bandung, wuahh akhirnya kami kopidarat, dia seramah dan semanis Bagi Bagi Zine. Para pelapak juga mendandani lahan mereka, lapak pun jadi meriah, peserta terakhir yang bergabung adalah Needle n Bitch, saya betah membaca koleksi Zine mereka. 

Di festival ini saya bertemu dengan para partisipan Indonesian Netaudio Festival, saya sharing update Indonesian Netaudio Festival ke Ababil Ashari, Manan, Fajri, Acil, Alfian, mengenai perpindahan festival ke Yogyakarta, perpindahan lokasi mendapat respon yang positif karena Yogyakarta memang lebih mumpuni dibandingkan Surabaya. Kami sangat berharap Indonesian Netaudio Fest memiliki atmosfer yang sama dengan Bandung Zine Fest, semuanya bergembira, tidak hanya kami para pelaku tapi orang orang yang belum kami kenal tapi tertarik dengan proyek kami.   

Diskusi santai dengan narasumber Ika Vantiani dan Ucok serta Paton sebagai moderator dimulai dengan sharing pemikiran, perasaan, dan pengalaman dari dua pembuat Zine yang sangat tersohor di Indonesia. Aldiman Sinaga dan Eka Ghandi pun diajak sharing mengenai Zine mereka masing masing, wah Ghandi membuat komik mengenai band band kampus seni (ITB, ISI, IKJ) sebagai tugas akhirnya di ISI Yogyakarta. Satu hal yang lucu adalah saat Fajri dan Manan menyeletuk kata kata "Agama Ucok" sebagai respon mereka atas fenomena pengkultusan Ucok. Abis diskusi, panitia memutar video dokumenter tur band punk Balikpapan : Sepak Terjang, menampilkan bagaimana mereka mengorganisasikan tur, membina jaringan, anggaran yang minim, tapi berhasil membuat tur yang menyenangkan. Saya sendiri belajar banyak dari komunitas punk mengenai berjaringan dan mengorganisasikan pertunjukkan musik serta membuat merchandise, terimakasih yang hangat untuk Reza Garasi337. 

Malam sudah datang, Manan pamit cabut duluan kembali ke ibukota bersama staff Primitif lainnya, sempat menyapa Dimas, begitu juga dengan Toro Elmar. Semoga kami bisa bergabung lagi dalam acara serupa karena ini sangat menyenangkan! Sesi terakhir adalah pemutaran mengenai Soekarno dan Gedung Indonesia Menggugat yang diambil dari salah satu program televisi. Jam 9 malam festival hebat ini pun ditutup, mulailah saya berkenalan dengan panitia, ada Deden yang menjadi mata air Indonesian Zines, Icha yang membuat Metalbike, Array yang bikin Wild Society, Audry yang bikin Kebebasan Mutlak, Reka yang bikin Zine Ruang Kecil, ihh rasanya tuh seneng banget bisa saling menyambut kata kata dengan mereka, dan salut buat mereka yang berhasil menyelenggarakan Zine Fest pertama di Bandung. Setelah membereskan semuanya, Icha memimpin menghitung uang hasil donasi, terkumpul sekitar 300ribuan, menghitung pengeluaran yang terbilang minim karena tidak membayar biaya tempat, Sebelum kami menuju tempat menginap : Warung Imajinasi, kami makan malam dulu di warung tenda nasi goreng Solo. 

Dengan porsi yang besar, saya berhasil menghabiskan kwetiau goreng, yang lain terlihat cukup bersusah payah menghabiskan pesanannya, wah lagi lagi saya berasa sangat nyaman bersama mereka, makan dan ngobrol. Saya juga share mengenai Indonesian Netaudio Fest karena mereka semua juga aktif di skena musik. Kami membawa serta perut yang kekenyangan ke Cipaganti, menuju Warung Imajinasi. Beralamatkan di Jalan Curie 1, Warung Imajinasi menempati rumah kolonial, disambut oleh Benny dan 2 kawannya, mereka sedang asjik main scrable di beranda. Kami para tamu masuk ke ruang baca dengan koleksi buku yang menarik : buku anak anak, memang tidak banyak tapi ruang ini nyaman dengan banyak properti yang lucu lucu. Karena Benny memakai kaos Cells Button, saya langsung bahas HONF dan dia ikutan Cells Button tahun lalu dan berkenalan dengan Benny Wicaksono dan Kremi. Jadilah kami bertukar cerita mengenai Warung Imajinasi dan C2O Library. Warung Imajinasi terbilang ruang baru, sedang berlangsung pameran grafis anak anak UPI yang kebanyakan karyanya mirip sama Amenk, program utama mereka adalah perintisan perpustakaan di pedesaan, dan serunya mereka bikin banyak kelas gratis seperti kelas bahasa Jerman, kelas gambar, kelas bahasa Inggris, huahhh. Ngebut ngobrol sama Benny dan saatnya tidur di ruang baca, baca dulu "Enchanted Sea - Enid Blyton".   

Bandung, 15 Juli 2012
Udara tidak sedingin yang saya duga, terbangun sekitar jam 6 pagi karena alarm blackberry nya Deden, sebelah saya ada Aldiman Sinaga yang memakai sweaternya sebagai penutup kaki, dia ikutan bangun, Tommy masih terlelap, begitu juga Deden dan Array. Icha dan Benny masih ngobrol di beranda, mereka begadang, saya ingin jalan jalan sekalian cari warnet. Bandung tidak sesejuk tahun tahun lalu, saya berjalan keliling komplek rumah kolonial, masih lumayan banyak rumah kolonial yang terawat, beberapa manusia lari pagi, jalan jalan di komplek ini diberi nama para dokter dan ahli kimia ternama seperti Jalan Dr Rajiman, Jalan Dr Eijkman. Dapat warnet tapi gak bisa unduh karena khusus game online, lanjut berjalan kaki menuju Jalan Pasteur, menemukan Rumah Sakit Hasan Sadikin--Ababil Ashari bertugas sebagai Dokter Muda, masuk Jalan Sukajadi dengan tumpukan ruko, saya membeli serabi oncom, sarapan kue yang pedas dan gurih. Karena beberapa warnet yang saya lalui masih pada tutup, saya kembali ke Warung Imajinasi. 

Pas nyampe, Aldiman Sinaga siap kembali ke Pontianak, travel sudah siap mengantarnya ke bandara Soekarno Hatta, memberikan pelukan sampai jumpa kepada Aldiman Sinaga, semoga saya bisa mengunjunginya di Pontianak. Saya malas mandi, sekitar jam 8 pagi, saya dan Tommy pamit ke kawan kawan panitia Bandung Zine Fest : Deden, Reka, Array yang menginap bersama di Warung Imajinasi. Kami berjalan kaki keluar komplek, Tommy menuju Ciwalk janjian sama temannya, saya menuju Stasiun Bandung nyari warnet. Tommy sempat cerita kegiatannya dengan Indra Menuz, menyelenggarakan zine fair di kampusnya UGM, Tommy kuliah di jurusan Ilmu Komunikasi, dan dengan semangat dia menularkan kegemarannya membuat zine, wah semoga saya bisa bergabung dengan Tommy dan Menuz saat mereka mengadakan acara lagi. 

Akhirnya nemu warnet deket stasiun Bandung, buset susahnya nyari warnet pagi pagi. Siang ini harus menyerahkan laporan kerjaan, 4 jam kemudian laporan selesai dan terkirimkan via email, wuahhh nih kerjaan bikin deg deg an banget, deadline! Sudah jam 1 siang dan kelaparan, di sebelah warnet ada kedai, saya memesan nasi putih, telur dadar, dan sambal terong, gak terlalu sip masakannya, saya lumayan berusaha untuk menghabiskannya karena perjalanan pulang ke Blitar akan memakan banyak energi : duduk di dalam bis seharian. Wansky memberi kabar akan menemui saya di Jalan Ambon--pool bis Kramat Djati. Habis makan jalan kaki ke Jalan Ambon dan kopidarat dengan Wansky--founder Gigsplay. Saya sharing soal perpindahan lokasi Indonesian Netaudio Fest ke Yogyakarta, Wansky berniat datang karena dia juga pernah bikin Netlabel : http://netlabel.sixteenhole.com/ , Wansky nunjukin dengan tablet-nya, cari di google dengan keyword netlabel, liat urutan kelima, heheh tapi udah gak aktif, dan sayan link downloadnya juga sudah tidak eksis. Wansky yang juga adalah manager Mocca ternyata punya banyak pengalaman dalam Netaudio, dia dan kawannya mengelola Open Radio, Wansky juga baru saja meluncurkan proyek Gigsplay Records dengan Suddenly Sunday sebagai artis pertama. Gigsplay Records menawarkan alternatif rilisan, kita membeli rilisan digital (yah kayak iTunes) dan juga meliris fisik secara eksklusif sebagai merchandise. Wansky juga sedang menulis skripsi mengenai keberhasilan Bottlesmoker dan Aditya Sofian, dua musisi yang berhasil diterima pasar meskipun mereka meliris karya via Internet secara gratis dan legal. Bis saya akan berangkat, wah padahal pengen ngobrol banyak sama Wansky, mengucapkan sampai jumpa dan segera naik bis. 

Saya duduk di kursi no 29, paling belakang, bis melaju meninggalkan Bandung meskipun terjebak cukup lama dalam kemacetan di dalam kota Bandung, yah ini akhir pekan. Selagi masih terang saya membaca beberapa zine dan bukunya Octora : Cahaya Terang Perahu Utopia yang adalah kumpulan tulisan yang terinspirasi dari lagu lagunya Pure Saturday. Kembali memaklumi kemacetan di sepanjang Jawa Barat, lumayan bisa tidur. 

tinta : bebe..bis ku baru meluncur meninggalkan bandung..sampai jumpa lagi ya bebe..akan kusampaikan karyamu ke kuro
bebe : tintaaa..maafin ya kmarin be lupa pamit..kmarin jg ada osman & tadinya be mau ajak dia ktm kamu, tapi pas mau nyamperin km nya lagi asik ngobrol, trus kita sungkan ganggu & akhirnya nunggu di cafe, tapi setelah itu kita kelupaanmalah otw dari GIM...maaf ya...nanti ke bandung lagi ya..salam ke kuro, aku kangen gitu. hehe sampai jumpa lagi lain waktu ya..& terimakasih buat semuanya :)

tinta : selamat sampai pontianak? bis saya baru meluncur ke blitar, senang bisa kopidarat dgn dikau :D
aldiman sinaga : iyaa, akhirnya kita ketemuan nyata jg, di acara yang seru lagi, hehehe have a nice trip sampe blitar yah. kalo ketemu addy, sampekan salam ku :-)

tinta : fuad..bis ku baru meluncur meninggalkan bandung..sampai jumpa lagi ya fuad..semangat buat sidang besok :D
fuad : tentu harus ntar bertandang ke sby kota rocker haha..selamat enjoy perjalanan bis nya! sampai jumpaa..

Blitar, 16 Juli 2012
Masuk ke kota Blitar jam 10 pagi. Turun di Jalan Tanjung dan berjalan kaki ke kost, lapar dan lelah sangat terasa. Hal pertama yang dilakukan saat tiba di kost adalah mandi, wuahh kembali semangat untuk cari makan siang! Abis makan lanjut meeting sampai sore. Kereta api menuju Jakarta akan berangkat jam 5 sore. 

milla : tinta...km masi di bdg ga?
tinta : udah nyampe blitar...dan sore ini berangkat ke jkt..huhu tdk bertemu dikau..
milla : ckckckck...mobile bgt nih anak! aku mau zine2 km padahal..udh nyampe volume #14 dong?! juara ah!
tinta : gilak nih kerjaan bikin badan gue remek kebanyakan naek bis malam..gue ke bdg lagi dah abis lebaran

Wuahh ini berasa banget gilaknya, baru nyampe Blitar udah harus berangkat lagi ke Jakarta buat meeting besok pagi. Dan sepanjang perjalanan ke ibukota tidak terlalu nyaman, punggung dan pantat kelelahan. 

Jakarta, 17 Juli 2012
Sudah jam 9 pagi, pastinya saya telat datang ke pertemuan P2KH di Hotel Atlet Century, buru buru naek busway dari shelter Senen, turun di shelter Senayan dan masuk hotel (lebih tepatnya toilet hotel untuk ganti baju dan sikat gigi). Di lobi bertemu ketua tim, lanjut ke lantai 9 untuk asistensi, sebenarnya seru sih bertemu para konsultan pemberdayaan masyarakat se-Indonesia, tapi karena atmosfernya adalah proyek pemerintah saya tidak berminat bersosialisasi dengan para konsultan. Makan siang di lantai 11 dengan pemandangan cityscape yang memukau, hehe maklum udah jarang liat pencakar langit, stadion senayan terlihat cantik dari atas. Meeting sampai sore tutup, saya berjalan jalan di parkir timur Senayan yang memiliki hutan kota, situs nyaman di pusat kota. Kembali ke hotel untuk makan malam dan segera cabut ke Fatmawati, menuju rumahnya Ajeng.

Jalan kaki ke terminal Blok M sekitar setengah jam, kaget dengan hadirnya fly over di depan terminal, menemukan metromini 604 dan segera naik bis. Menyebalkan merasakan kemacetan total di Jalan Darmawangsa, terjebak dalam polusi udara. Terbebas dari kutukan ibukota setelah masuk Jalan Raya Fatmawati, saya jarang banget lewat sini, melewati CK, Lawson Station, 7-11, seharusnya saya turun di Jalan Mangga, tapi abang supirnya gak ngeh jadinya kelewatan, berjalan kaki ke Jalan Mangga berdasarkan petunjuk dari Ajeng, dan Ajeng menjemput saya di mulut jalan. Malam ini saya menginap di rumah Ajeng, ternyata Ajeng udah nyiapin kamar buat saya, keluarga Ajeng punya usaha kost-kostan, wuih saya berasa nginep di hotel, sangat makasih Ajeng!

Saya janjian kopidarat dengan Ganesha di 7-11 di depanITC Fatmawati jam 10 malam ini. Setelah mandi, saya jalan kaki sekitar 10 menit menuju 7-11, hehe saya baru pertama kali nih ke 7-11. Ganesha sudah sampai juga, ahh senangnya bisa bertemu dengan dia, sebagai salah satu musisi indie-pop yang menyenangkan. Ganesha bertubuh besar dan subur, berkacamata dengan frame hitam, memakai kaos dan celana jeans serta sendal. Ganesha berdomisili di Pasar Minggu, jadi sengaja saya ajak ketemuan karena masih di satu kawasan. Kami pun langsung bertukar cerita, mulai dari Indonesian Netaudio Festival sampai Inmyroom Party. Karena kehabisan halimun edisi Bandung, saya gak bisa kasih hasil interpiunya Ganesha dengan Bah Records. Hujan turun lumayan deras, aneh juga tiba tiba lihat hujan, kami masih mengobrol di dalam 7-11 hingga hujan reda, meskipun Ganesha terbilang malu malu untuk ngobrol tapi dia punya banyak cerita menarik. Jam 12 malam lewat saya menumpang Ganesha pulang ke rumah Ajeng.      

Jakarta, 18 Juli 2012
Jakarta lumayan sejuk setelah semalam hujan, setelah mandi dan beres beres barang bawaan saya menunggu Ajeng di beranda. Ajeng datang membawakan teh hangat, wuahhh nih minuman kok berasa nyaman banget, saya tambah semangat menghabiskan hari di Jakarta. Ajeng berangkat ngantor di daerah Kuningan dengan ojek langganannya, saya jalan kaki keluar gang, naik metromini 604 ke Blok M. Belum jam 10 udah nyampe di depan Blok M Square, menunggu dibukanya stand stand buku di pasar buku murah yang berada di basement Blok M Square. Hanya beberapa stand buku yang sudah siap menjaja buku buku murah, saya berkeliling sejenak di basement, ada banyak stand baju bekas, jasa jahit dan bordir, dan pastinya stand buku. Ini pertama kalinya saya ke Blok M Square, saya lupa ini dulu gedung apa sebelum berubah jadi mal. 

Saya berhenti di salah satu stand buku yang memamerkan "Sugih Tanpa Banda - Umar Kayam", sang penjual langsung mendekati saat saya terpaku di depan buku. Harga buku tersebut 60ribu, setelah tawar menawar saya diberi harga 25ribu, kondisinya masih baru. Sang penjual yang bernama Daniel dengan lihai menawarkan buku sastra lainnya, buku sastra Indonesia yang langka macam Di Bawah Bendera Revolusi dan Max Havelaar terbitan pertama, saya gak berani nawar karena pasti mahal. Berdasarkan penuturan Daniel, pasar buku murah ini adalah pindahan dari sebagian besar pedagang buku di Kwitang, sudah hampir 2 tahun pindah kesini, dan mereka nyaman berjualan disini karena managemen mal meng-anak-emas-kan mereka, pihak mal menjadikan pasar buku murah ini menjadi "barang jualan" utama, rencananya akan menjadi pusat buku termurah se-Indonesia. Memang koleksinya beragam tapi tetap masih melimpah di Yogyakarta untuk buku buku sosial-budaya-politik-sejarah-sastra. 

Tujuan terakhir sebelum saya meninggalkan ibukota adalah ANTARA FOTO, saya naik busway dengan antrian yang cukup padat, transit di Harmoni, oper ke jurusan Pasar Baru, seharusnya saya turun di shelter Pasar Baru, karena saya naik busway BBG dengan 2 pintu sementara di shelter Pasar Baru hanya tersedia satu pintu, maka saya gak bisa turun, terpaksa turun di shelter selanjutnya lalu kembali ke Pasar Baru. Oxalis menyambut kedatangan saya, akhirnya kesampaian juga bisa berkunjung ke kantornya Oxalis. Oxalis bekerja sebagai translator di ANTARA FOTO yang menempati bangunan kolonial yang sudah direnovasi interiornya tapi tetap apik. Sedang berlangsung 2 pameran di lantai dasar, satu pameran dari komunitas entah apa dengan display yang kurang oke, satu lagi adalah pameran hasil workshop foto ANTARA (dengan biaya sekitar sejutaan untuk ikutan workshop), wah pameran hasil workshopnya standard bagus. 

Kami menuju lantai 1, ruang kerja Oxalis, suasana kantor sedang ramai karena ada semacam syukuran menyambut Bulan Ramadhan. Kantor Oxalis nyaman, Oxalis pun sangat betah bekerja disana. Oxalis mengajak saya ke perpustakaan kantor, wah puas melihat buku buku fotografi, dan mereka sedang mempersiapkan katalog pameran tahunan dengan tema yang sama : MEKKAH, karya dari fotographer ANTARA yang ditugaskan di Mekkah. Berkenalan dengan Tulang Dodi yang mengurus perpustakaan dan rumah tangga ANTARA FOTO. Dengan semangat dia menunjukkan foto perbedaan perempuan Batak jaman sekarang dengan jaman dulu, dan iyah kerasa banget perbedaannya, perempuan Batak jaman sekarang berkulit lebih putih dan halus, hidung lebih mancung, dan rambut lebih lurus. Oxalis menunjukkan beberapa katalog foto yang sangat menarik mata, tidak hanya foto yang apik juga karena desain nya apik juga, Tulang Dodi sampai menegur kami berdua karena asjik mengobrol ketimbang membaca, hehe maklum ini kan di dalam perpustakaan. 

Puas melihat katalog foto, Oxalis menunjukkan pria bernama Oscar Matuloh, wah akhirnya melihat langsung fotographer handal Indonesia. Oxalis melanjutkan pekerjaannya, menterjemahkan caption foto, Oxalis yang berbadan mungil terlihat nyaman di depan iMac ukuran gede entah ukuran berapa dan duduk di kursi yang juga besar. Karena tadi ada acara syukuran saya kebagian makan siang gratisan, wah bersyukur banget bisa makan asinan dan cah brokoli. Sudah jam 2 siang lewat banyak, selepas makan dan minum saya pamit ke Oxalis, sangat beruntung siang ini mengobrol banyak dan menjelajahi kantornya yang menyenangkan. Saya buru buru naek kopaja ke Stasiun Senen, kereta saya berangkat ke Blitar jam 3 sore. Sampai jumpa Jakarta!    
  
yuli : halo tinta gimana kabarnya. apakah km sehat. tin kapan km pulang soalnya charlie hamil, charlie sensitif ndak mau dipegang
tinta : wah yuli charlie hamil..aku sedang  perjalanan pulang ke blitar dari jakarta naek kereta..sabtu siang baru ke surabaya, sampai jumpa ya, sehat semua kan?
yuli : iya, hati hati ya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar