Kamis, 09 Februari 2017

Bangkok Walking Tour



Surabaya Johnny Walker memberikan saya kesempatan untuk mengikuti Bangkok WalkingAdventures pada hari Senin, 16 January 2017. Saya memilihi rute full day sekitar 7 jam senilai 65 USD. Meeting point adalah stasiun kereta api Hualampong pukul 08.30, hanya 10 menit berjalan kaki dari hostel saya. Karena transportasi public di Bangkok sudah lumayan layak dan popular, tidak heran meeting point-nya di public space, menarik juga karena aku bisa mengamati stasiun kereta api yang dibangun era kolonial dan para komuter yang sudah mulai bergerak. Tour guide memakai baju dan topi berlabelkan Bangkok Walking Adventures, jadi saya mudah mengenalinya. Pertama kami berjalan kaki menuju pintu Chinatown sambil membahas filem2 yang shooting di Bangkok dan menikmati udara pagi dengan sedikit polusi.

The

THE TOUR
1.    THE DRAGON’S BELLY
Meskipun saya sudah ke Chinatown sehari sebelum tur, tapi hal yang berbeda yang saya dapatkan, rute terbaik yang pernah saya ikuti. Sangat menyenangkan karena di Chinatown banyak gang dan kita tidak akan melalui jalan yang sama. Chinatown di Bangkok menurut saya paling menarik di Asia Tenggara karena sangat padat dan berbaur dengan baik dengan kultur Thailand.

a.    Toko Peti Mati
Toko2 sudah buka pukul 08.00, salah satunya toko peti mati untuk kaum Chinese-Thai, mulai diperkenalkan gabungan visual China dan Thailand.

b.    Fortune Teller
Kami ke salah satu Wat yang popular dengan fortune teller seperti di Klenteng Dukuh, Surabaya. Wat adalah sebuah kompleks yang terdiri dari kuil, tempat tinggal biksu, sekolah, dan jasa penyimpanan abu. Pasti ada pohon Bodhi di halaman Wat. Sang tour guide meminta saya untuk menyimpan daun Bodhi yang telah gugur di dalam buku, katanya supaya saya tambah pintar.

c.     Old Market
Salah satu yang menarik adalah Trok Issaranuphap, terletak di sebuah sei (bahasa Thai untuk gang) di Jalan Yaowarat, barisan pelapak dan toko sayuran dan makanan memenuhi gang ini. Banyak toko yang menjual rempah-rempah dan teh beserta perangkat poci untuk meminum teh. Kami menyusuri bagian belakang dari toko-toko tersebut, melihat dapur mereka! Kuil pertama di Chinatown juga terletak di sei ini, namanya Leng Buai la Shrine, kuil untuk menghormati orang Cina pertama yang datang ke Bangkok, seorang pedagang ulung.  

d.    Baan Kao Lao Reuang
Sebuah museum yang menempati rumah kedai tiga lantai di Charoen Krung Soi 23, menjadi pusat konservasi budaya dan museum yang dikelola oleh warga Charoen Chai District. Baan Kalo Lao Reuang menyediakan peta Charoen Chai – Bangkok’s Chinatown untuk turis (sangat menarik!!!) dan menampilkan koleksi foto dan lukisan serta properti teater. Ada kotak donasi dan mereka juga menjual merchandise.
http://www.bangkokpost.com/print/443047/

e.    Nightingale-Olympic
Kami berkunjung ke department store pertama di Bangkok, sejak tahun 1960an, dan mereka masih menjual produk tahun 70an, ya ampun barang2 vintage bertebaran, baju hingga alat musik, terbaik banget. Foto yang terpajang adalah King Rama V yang dikagumi rakyat Thai.

f.      Sikh temple
Ternyata ada little India juga, sebelahan dengan Chinatown. Sebelumnya kami makan siang pork noodle dengan desert yang yahud (padahal kayak es campur, tapi kenapa rasanya enak banget ya). Berkunjung ke Sikh Temple terbesar ke-2 di dunia, yang terbesar pertama pastinya di India. Di sekitar temple ada shopping mall kebutuhan kaum India dan Indian street food.

2.    BUCKET LIST
Bucket List adalah rute umum, mengunjungi tempat2 wajib dan touristy.

a.    The Majestic Chao Phrya River
Chao Phrya River adalah sungai utama yang membelah Bangkok, kami menyebrang dari Chinatown ke Wat Arun dengan perahu mesin, hanya 2 menit, singkat sekali, seperti naik tambang di Kali Mas. Sungai Chaos Phrya bersih dan tidak berbau, bisa menikmati sungai sambil menunggu perahu datang. Sistem transportasi publik di Bangkok paling maju di Asia Tenggara setelah Singapore dan Malaysia. Semua wilayah terhubung dengan beragam transportasi, yaitu bis kota, BTS sky train, MRT (Bangkok Metro), dan Express Boat River Taxis (Chao Phraya Express). Selain itu ada tuk-tuk dan taksi.

b.    Local Snack & Herbal Drink
Saya nyoba cumi bakar dengan sambal, terlalu pedas dan porsinya terlalu besar. Menikmati snack lokal: coconut rice cake (semacam kue serabi yang disajikan setengah matang) dan minum herbal drink, air buah semacam jeruk.

c.     Reclining Buddha
Masuk ke kuil harus lepas sepatu dan berpakaian sopan, bahkan celana training ketat juga tidak layak. Kotak donasi tersebar di banyak sudut, pengunjung dengan senang hati memberikan Bath.

d.    Grand Palace
Bangkok sedang masa berkabung selama setahun atas kematian Rama King IX. Antrian panjang para warga Thai di Grand Palace untuk menyatakan duka, menjadi pemandangan menarik tersendiri karena banyak relawan yang menyediakan jasa potong rambut gratis dan makanan minuman gratis dengan kualitas terbaik!

Karena saya pakai celana jogging yang ketat, jadi harus mengantri di bagian kostum untuk memakai kain. Kain/kemeja dipinjamkan gratis dengan deposit.
  
e.    The Emerald Buddha
Tour guide selalu mengingatkan cara duduk yang baik saat di kuil, bisa/tidak ambil foto, mencegah turis berbuat tidak layak J

f.      Thailand’s first massage school
Sayangnya tidak mencoba Thai massage (mahal juga sih 250 Bath)

g.    The Temple of Dawn
Ini adalah situs terakhir dan terhubung dengan transportasi publik, jadi aku naik perahu untuk pulang ke hostel, sangat ok rutenya.

Tour guide-nya berlisensi (hehhehe karena saya belum berlisensi). Info darinya, hanya orang Thailand yang bisa jadi tour guide, kerajaan hanya ingin orang Thai sendiri yang bercerita tentang sejarah Thailand kepada turis. Semua tour guide berlisensi di Thailand, mereka membayar dan mengikuti kursus tour guide selama 6 bulan. Saat berkunjung ke museum atau tempat wisata berbayar lainnya, dia memakai ID tour guide dan tidak perlu membayar entrance fee.

Tour guide berbicara dalam bahasa Inggris yang tidak terlalu fasih, jadi saya harus pasang telinga dengan baik jika dia bercerita agak panjang. Karena dia membawa foto2 lama dan arsip yang terkait dengan situs, aku terbantu untuk mengenal sejarah Chinatown. Dia selalu ambil foto saya di tempat-tempat popular, dan ok juga foto2nya dikirim via email beberapa hari setelah tour. Usianya 40an dan dia bekerja freelance di walking tour ini. Saat ini sedang low season, 1 tour per 1 week itu sudah ok. Dia bisa handle maksimum 8 orang sendirian. Umumnya turis asing yang ambil tour, karena warga Bangkok tidak berjalan kaki, mereka naik tuk-tuk atau sepeda motor.


Les Huysmans, pendiri Bangkok Walking Adventures adalah seorang Belgia yang sudah lebih dari 10 tahun tinggal di Bangkok. Las yang membuat semua rute, dia yang melakukan riset. Tour guide saya salut dengan usaha Les melakukan riset dan membuat rute, bahkan dia sebagai warga lokal banyak juga tidak tahu mengenai situs2 yang dipilih Las.

Banyak pilihan walking tour di Bangkok, lain kesempatan akan mencoba yang lainnya :) 

Senin, 19 Desember 2016

Pertigaan Map: Peta berjalan kaki di Surabaya Utara



INTERVIEW WITH ANITHA SILVIA & CELCEA TIFANI (PERTIGAAN MAP)*


1.    Apa itu Pertigaan Map?
Pertigaan Map adalah peta berjalan kaki di Surabaya Utara yang mencakup tiga kawasan, Europe Quarter, Chinese Quarter, Arab Quarter. Pertigaan Map mengajak kita untuk mengenal Surabaya Utara melalui arsitektur, sejarah, kuliner, vernakular desain, dan aktifitas warga dengan cara berjalan kaki.

2.    Mengapa memilih nama “Pertigaan Map”? Apa filosofinya?
Nama Pertigaan dipilih karena kami mendokumentasikan ketiga kawasan di Surabaya Utara yakni Chinese Quarter, Arab Quarter, dan Europe Quarter dimana keberadaan ketiga kawasan ini bersinggungan satu sama lain, dengan adanya Jembatan Merah sebagai penanda persimpangan ketiga kawasan yang menyerupai pertigaan. 

3.    Mengapa Surabaya?
Surabaya merupakan pelabuhan gerbang utama Kerajaan Majapahit.
Surabaya pada 1900an adalah kota pelabuhan yang paling sibuk dan paling modern di Hindia Belanda (nama Indonesia sebelum merdeka). Sebagai kota pelabuhan, Surabaya adalah kosmopolitan dan mengalami urbanisasi sejak tahun 1900an. 
Kami tinggal di Surabaya--kota kedua terbesar di Indonesia. Dibandingkan Jakarta, Surabaya masih punya lebih banyak kesempatan/ruang untuk eksperimen dan melakukan perubahan yang lebih baik.  

4.    Kenapa dibagi menjadi 3 quarter? Apakah ada cerita atau sejarahnya?
Surabaya pernah menjadi kota pelabuhan termodern dan tersibuk di Hindia Belanda pada tahun 1900 – 1930an dengan pusat kota pada masa itu adalah Surabaya Utara yang dibagi menjadi 3 kawasan (Europe Quarter, Arab Quarter, dan Chinese Quarter). Pembagian wilayah tersebut berdasarkan UU Wijkenstelsel pada tahun 1835-1924 yang mengharuskan orang Cina dan orang Timur Asing lainnya (seperti Arab) berdiam di wilayah yang ditentukan. Bagi mereka yang melanggar dan tinggal di luar wilayah akan dikenakan sangsi penjara atau denda. Meskipun UU Wijkenstelsel sudah lama tidak berlaku namun hingga sekarang masih terlihat jelas pembagian tiga wilayah. Pembagian wilayah berdasarkan alasan politis, Belanda merasa terancam apabila para pendatang dari Cina dan Arab berbaur dengan pribumi dan bersekutu melawan Belanda. 

Masing-masing kawasan memiliki identitas yang sangat kuat dan warga masing-masing kawasan berinteraksi satu sama lain. Europe Quarter (disebut juga sebagai kawasan Jembatan Merah) dengan ratusan bangunan besar berlanggam kolonial tropis; Chinese Quarter (disebut juga dengan kawasan Pecinan atau Kembang Jepun) sebagai pusat perdagangan memiliki sejumlah pasar, kelenteng, rumah kongsi, rumah sembahyang; Arab Quarter (disebut juga dengan kawasan Ampel) yang adalah Kampung Arab terbesar di Indonesia. Narasi yang berlapis di tiga kawasan tersebut sangat mewakili kota Surabaya sebagai kota kerja yang kemudian kami gunakan sebagai dasar pemetaan tiga kawasan. Kompleksitas narasi di ketiga quarter di Surabaya Utara menjanjikan pengalaman yang luar biasa untuk proyek kami dan untuk itulah kami memutuskan untuk fokus di area tersebut. 

Ketiga quarter tersebut adalah sebuah kesatuan yang mampu berdiri sendiri karena karakter dan identitas yang sangat kuat, secara narasi dan visual. Kami merasa bertanggung jawab untuk menjabarkan ketiga kawasan secara utuh melalui proses desain yang juga adaptasi dari beberapa hasil riset kami dan temuan lapangan. 

5.    Mengapa memilih lokasi Surabaya Utara?
Surabaya Utara adalah kota tua Surabaya, menjadi pusat perdagangan sejak Belanda menduduki Surabaya. Pelabuhan Tanjung Perak yang berada di Surabaya Utara, memperkuat karakter Surabaya sebagai kota pelabuhan. Surabaya Utara juga sebagai wilayah yang paling heterogen, mulai dari orang Jawa, orang Madura, Tionghoa, Banjar, Bugis, dan Arab peranakan tinggal di sana.

6.    Siapa itu Anitha Silvia?
Komite c2o library & collabtive yang aktif mengelola program-program berjalan kaki di kota Surabaya. 

7.    Siapa itu Celcea Tifani?
Desainer grafis yang memiliki minat di isu ruang dan perkotaan. 

8.    Adakah key people lainnya selain kalian berdua?
Translator: Felkiza Vinanda & Kenny Soesilo
Photographer: Kenny Soesilo 
Videographer: Sinatrya Dharaka & Adi Bani Lodji 
Produksi pameran: Hamzah Qhoswatul, Andreanus Harry Budihardjo
Produser: Elang Cakra  

9.    Bagaimana cerita proyek ini dimulai? Awal kalian bertemu, mulai dari kapan dan apa yang mencetuskan munculnya ide ini?
Anitha Silvia suka berjalan kaki dan sudah menggagas program berjalan kaki sebelumnya bersama C2O library & collabtive (Manic Street Walkers dan Surabaya Johnny Walker) yang aktif sampai sekarang. Celcea Tifani yang suka dan mengkoleksi peta fisik yang  pada waktu itu baru saja pulang ke Indonesia, merasa tidak memiliki keterikatan spasial dengan Surabaya, kota dimana dia tinggal dan dibesarkan. Dari ketertarikan masing-masing terhadap kota Surabaya dan sama-sama berambisi untuk membuat peta fisik Surabaya, maka tercetuslah proyek yang kami beri nama PERTIGAAN, proyek peta berjalan kaki di tiga kawasan utama Surabaya Utara: Europe Quarter, Chinese Quarter, Arab Quarter.Proyek Pertigaan dikerjakan mulai awal Januari 2016 hingga akhir Juli 2016. 

10. Mengapa memilih untuk membuat peta dalam bentuk fisik setelah semuanya berubah menjadi digital?
Peta fisik adalah output yang fundamental menurut kami dalam sebuah tahapan awal pengenalan kota. Privilege memiliki sebuah kertas dalam ukuran 45 x 60 cm adalah: audience diijinkan mencoret, menambahi, melipat dan melakukan treatment apa saja yang membuat si pejalan kaki memiliki keterikatan yang lebih dari sekedar membuka apps dan berbagi layar dengan program dan halaman lain, keterbatasan zoom in dan zoom out di layar digital kami rasa tidak intim dalam praktek berjalan kaki. 

11. Kenapa berjalan kaki?
Menikmati dan mengenal kota sendiri dengan cara berjalan kaki menjadikan pengalaman tersebut sangat intim. Karena berjalan kaki menawarkan authorship yang utuh, dimana kita sebagai penikmat mempunyai kebebasan penuh untuk berhenti, melihat lebih lama, balik badan, menyentuh, dan mencium bau sekitar yang tidak akan dialami apabila menikmati kota dengan cara naik kendaraan, dimana kita berbagi authorship dengan kendaraan yang kita pakai. 

12. Apa challenge terbesar saat mengerjakan proyek ini?
Pembagian waktu. Kami membuat timeline yang padat dan ambisius, mulai dari Januari – Juli 2016, hanya 7 bulan untuk riset lapangan, proses design, produksi, dan pameran. Yang terasa cukup berat adalah bagaimana membagi waktu untuk Pertigaan Map dan pekerjaan utama kami, selain masalah waktu tantangan berat lainnya adalah mencoba seluruh makanan dan minuman di tiga kawasan tersebut. Selama proses mendesain, kami juga menemukan cukup banyak kejutan visual yang kami sepakati bisa digunakan sebagai visual representasi dari pertigaan map ini dan itu merupakan tantangan yang tidak mau kami lewatkan.

13. Apa sebenarnya tujuan dari dibuatnya Pertigaan Map?
Mengenal dan mendokumentasikan kota kami, Surabaya dengan cara berjalan kaki dan membuat proyek nyata atas ketertarikan kami terhadap kota Surabaya. 

14. Apa yang membedakan Pertigaan Map dengan peta fisik lainnya?
Pertigaan Map adalah rangkuman panduan untuk mengenal ketiga kawasan di Surabaya dari sejarah, arsitektur, kuliner, verakular desain, dan aktifitas warga yang dibuat dan diperuntukkan bagi pejalan kaki atau siapa saja yang mau mengenal Surabaya dengan cara berjalan kaki. Jadi segala informasi yang ada di dalam Pertigaan Map digodok dan dikurasi sedemikian rupa untuk memenuhi tujuan tersebut. Pertigaan Map adalah satu-satunya peta jalan kaki di Surabaya.

15. Any upcoming projects?

Pertigaan telah memproduksi sejumlah output: peta fisik, workshop, diskusi, pameran. Tahun 2017 rencananya Pertigaan Map bisa diakses bebas dan gratis yang diunggah di Internet sekaligus merevisi dan update contents. Jadi akan ada peta fisik edisi tahun 2017. Kami juga ingin membuat jurnal yang menceritakan proses desain Pertigaan Map dan narasi berjalan kaki di Surabaya Utara.

*ini adalah materi kasar dari interview yang dilakukan oleh Nylon Indonesia, diterbitkan di Nylon Indonesia edisi November 2016 
Foto Pertigaan Map oleh Whiteboard Journal 

Rabu, 27 Januari 2016

Manic Street Walkers, sebuah tanya jawab



Berikut adalah wawancara saya mewakili Manic Street Walkers oleh Wike Dita Herlinda, reporter Bisnis Indonesia. Wawancara ini diolah menjadi sebuah artikel di Bisnis Indonesia yang terbit pada tanggal 23 Januari 2016, bisa juga dibaca di link ini http://lifestyle.bisnis.com/read/20160123/220/512229/manic-street-walkers-program-mengenali-kota-dengan-jalan-kaki

1)      Bagaimana cerita awal terbentuknya Manic Street Walkers (MSW)? Ide untuk membuat komunitas pejalan kaki ini bermula dari apa? 

Manic Street Walkers (MSW) adalah program berjalan kaki di kota Surabaya yang dikelola oleh C2O library & collabtive, sebuah perpustakaan partikelir di Surabaya. MSW adalah program bukan komunitas. Ide awal MSW yaitu Surabaya sebagai kota terbesar ke-2 ternyata tidak memiliki transportasi publik yang layak semenjak saya tinggal di Surabaya tahun 2001 hingga sekarang, berjalan kaki menjadi moda transportasi yang memungkinkan karena minimnya durasi operasional dan jumlah transportasi publik; Surabaya memiliki topografi yang landai, memudahkan mobilitas pejalan kaki dan pesepeda; Surabaya berusia 700 tahun lebih, memiliki narasi yang berlimpah sebagai kota kolonial dan kota pelabuhan; Surabaya memiliki kehidupan 24 jam, 365 hari setahun, banyak sekali yang bisa kita pelajari di Surabaya dengan hanya berjalan kaki. 

2)      Apa yang membedakan MSW dengan komunitas pejalan kaki serupa di kota lain? 

Pertama, MSW adalah program dari C2O library & collabtive. Di Jakarta ada Jakarta on Foot dan di Bandung ada Aleut, mereka komunitas. Karena MSW adalah program, maka perlakuannya berbeda, kami melakukan riset multidisiplin tentang Surabaya: arsitektur, urban studies, cultural studies, antropologi, sosiologi, design, politik, kuliner, dll. Riset studi pustaka; observasi partisipan dengan berjalan kaki dan membuat project bersama warga lokal; berkolaborasi dengan sejarahwan, arsitek, seniman, designer, ahli kuliner dalam memproduksi tema tur berjalan kaki. Riset dan tur yang dilakukan adalah materi dasar untuk bisa direspon/dikembangkan menjadi festival kota, pameran seni, publikasi (buku, jurnal, koran), peta.     

3)      Sampai dengan sekarang, bagaimana perkembangan komunitas ini (baik dari segi kepesertaan/keanggotaan, penyebaran kegiatan di luar surabaya, maupun agenda rutin)?

Keanggotaan bersifat bebas, tidak terikat. Selain tur, MSW juga berkembang membuat pameran dan diskusi. Jika saya keluar kota, saya juga suka untuk membuat rute berjalan kaki di kota tersebut dengan mengajak teman2. di Jatiwangi, Majalengka, bersama Jatiwangi Art Factory membuat klab berjalan kaki namanya Suku Kaki. Di Jogja, saya mulai membantu merancang street art tour bersama seniman Jogja. Senang sekali bisa menyebarkan ide berjalan kaki di kota/desa, karena pada dasarnya kita semuanya bisa berjalan kaki dan cara yang paling tepat untuk menikmati suatu kota/desa.  
Januari - Maret 2016, kami melakukan riset pemetaan di tiga kawasan di Surabaya Utara: kawasan Eropa (Kota Lama), Pecinan, dan Kampung Arab. Riset berkolaborasi dengan seorang designer, namanya Celcea Tifani. Output jangka pendek adalah 3 peta berdasarkan kawasan tersebut. 
Per Agustus 2015 kami meluncurkan program baru, namanya Surabaya Johnny Walker (SJW), bisa dilihat di www.surabayawalk.com. SJW adalah tur jalan kaki berbayar, sementara MSW tur jalan kaki yang gratis, subsidi silang untuk program-program C2O library & collabtive yang biasanya gratis dan terbuka untuk umum. SJW dan MSW memiliki audience yang berbeda. Peserta SJW biasanya turis asing yang transit di Surabaya selama 1 hari sebelum melanjutkan perjalanan ke Bromo/Ijen/Bali/Jogja. Mereka sangat tertarik dengan rute yang kami tawarkan, program ini potensial untuk dikembangkan. 

4)      Apa saja yang menjadi pertimbangan saat menentukan rute untuk tur jalan kaki MSW? 

Kami mempelajari dan menikmati aktivitas sehari-hari warga kota Surabaya.  Kami mengutamakan tur di hari dan jam kerja, karena itulah Surabaya sebagai kota kerja, kata sejarahwan asal Australia, Howard Dick. Rute favorit kami di Surabaya Utara: Perak, Kota Lama, Kampung Arab, Pecinan, sangat hidup di hari dan jam kerja. Untuk rute kampung dan pasar seperti Kampung Keputran, Pasar Keputran, Kampung Genteng, Kampung Plampitan, Kampung Peneleh, Kampung Tambak Bayan, bisa dijelajahi setiap hari dan saat matahari bersinar karena lebih mudah untuk mengenal detil dan aktivitas warga. Kuliner juga menjadi pertimbangan karena Surabaya kaya akan kuliner, kami selalu mencoba makanan/minuman mulai dari street food sampai restoran di rute yang kami buat. Kami juga membuat rute berdasarkan buku. Rute Pecinan dari buku karya Remy Sylado - Kembang Jepun, rute Soekarno dari buku “Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”

5)      Seberapa rutin kegiatan turnya  (apakah mingguan, bulanan, atau saat ada event khusus saja)? Bisa dicontohkan tur yang sudah pernah ke mana saja?

Tur MSW satu kali dalam sebulan, tanggalnya tentatif, infonya bisa didapatkan di website: c2o-library.net/walkers, Twitter: @ManicStreetWalk, Instagram: @manicstreetwalkers 
Tur MSW yang akan digelar dalam bulan ini, Januari adalah rute Kawasan Eropa, kami akan berkunjung ke bangunan karya Hendrik Peter Berlage-bapak arisitektur modern, kantor pos Kebonrojo, Gereja Kepanjen, Masjid Kemayoran, Dejavasche Bank Museum, hingga sampai ke menara jam kantor gubernur Jawa Timur. 
Diluar tur bulanan yang terbuka untuk publik, kami juga membuat tur insidental dan karena selalu ada kolega yang datang ke c2o library.  

6)      Apa saja manfaat dari bergabung dengan komunitas ini?

Mempunyai keyakinan untuk berjalan kaki sebagai moda transportasi di Surabaya, karena tidak sedikit warga kota sudah melupakan dirinya bisa berjalan kaki. Dengan berjalan kaki kita akan mengenal kota Surabaya lebih baik, mendapatkan banyak inspirasi dari pertemuan dengan warga lokal sampai vernacular design yang banyak ditemui di jalanan. Mengetahui kekayaan kota Surabaya dan permasalahan perkotaan mulai dari infrastruktur sampai masalah sosial budaya.  

7)      Apa tantangan yang kerap dihadapi MSW dalam menggaungkan aktivitas jalan kaki di kalangan anak muda? 
Surabaya dengan matahari yang melimpah menjadi salah satu alasan untuk tidak berjalan kaki, tantangannya adalah bagaimana kita merespon matahari. Pemerintah kota Surabaya bisa membangun infrastruktur untuk pedestrian yang memanfaatkan matahari, seperti panel surya sebagai peneduh di trotoar.  

8)      Bisa diceritakan pengalaman menarik/paling berkesan yang pernah dirasakan saat menggelar tur MSW? 
Kami banyak belajar dan mendapatkan pengetahuan yang melimpah dengan terus berjalan kaki di Surabaya. Pusat kota Surabaya masih dihuni oleh warga, pusat kota adalah kampung, pasar tradisional, jalan arteri, pusat perbelanjaan modern, hotel.  Ternyata di banyak kampung di Surabaya sudah ada kultur untuk berjalan kaki di dalam kampung. Banyak signase yang meminta para penghuni/pengunjung untuk mematikan mesin kendaraannya sehingga kampung menjadi bebas dari lalu lalang sepeda motor, anak-anak kecil bebas aman bermain di koridor/gang-gang kampung, mengurangi polusi udara dan suara, interaksi antar-warga lebih cair, warga ada kesempatan untuk berjalan kaki di lingkungannya. Signase tersebut jarang saya temui di kota lainnya.   

9)  Apa persyaratan untuk bergabung dengan komunitas ini? Apa saja yang perlu dipersiapkan?

Tidak ada persyaratan khusus, tinggal datang di tempat dan waktu yang telah ditentukan. Pastikan kondisi tubuh sehat jika berminat mengikuti tur MSW. 
Untuk persiapan berjalan kaki, bawa/kenakan:
  • Kaos yang nyaman dan adem
  • Sepatu jalan kaki atau sandal gunung yang nyaman
  • Sunscreen dan topi jika perlu
  • Bawa payung/jas hujan
  • Bawa botol air
  • Bawa uang secukupnya
10)  Apa semangat yang ingin disebarkan MSW melalui kegiatan dalam komunitasnya? 

Semangat untuk berjalan kaki sebagai salah satu pilihan moda transportasi karena berjalan kaki adalah salah satu bagian penting dari zero carbon future! dan semangat untuk peka terhadap kota yang menjadi tempat tinggalnya. 

Rabu, 17 Juni 2015

April 2015 di Komunitas Bambu




Matahari belum terbit, tapi mata sudah melek, cukup kenyang tidur di Agro Anggrek Malam, siap turun di Jatinegara.  Jika berkunjung ke Jakarta, saya paling suka naik kereta api, turun di Jatinegara, lalu memilih tujuan dengan Commuter Line dengan sistem pembayaran e-money yang efektif dan efesien. Tujuan pertama saya adalah Komunitas Bambu.

Dengan Commuter Line Menuju Beji, Depok, turun di stasiun Pondok Cina yang juga baru direnovasi, lebih lapang dan teratur. Naik ojek ke Lapangan HW, jalan kaki sedikit ke Jalan Taufiqurahman no. 3 yang berada dekat dengan SMP Muhammadiyah. Di pagi masih dingin sisa hujan semalam, saya masuk ke Komunitas Bambu, para pekerja bangunan sedang bersiap-siap untuk bekerja membangun dua bangunan lagi. Bangunan utama yang adalah kantor Komunitas Bambu sudah hampir selesai dibangun. JJ Rizal, pendiri Komunitas Bambu datang 30 menit kemudian dengan wajah segar sehabis mandi sambil membawa gorengan. Karena saya kelaparan, saya minta dibelikan nasi uduk, dengan sepeda kayuh JJ Rizal membeli dua bungkus nasi uduk sebagai sarapan kami.

Kabar akan tutupnya Komunitas Bambu beberapa tahun silam membuat saya dan banyak orang gelisah. Sekarang saya melihat Komunitas Bambu sedang membangun kantor dan galeri, kami pun tersenyum. Meskipun ada masalah di kontraktor mula-mula yang membangun, sekarang diatasi oleh arsitek Yoshi Fajar,  menjadi sebuah kantor yang nyaman, teduh, cantik, dan inspiratif. Kantor berada di lantai dua, perpustakaan di lantai 1, lantai dasar untuk operasional pegawai. Yang sedang dibangun adalah galeri buku (nantinya akan memamerkan artwork cover buku terbitan Komunitas Bambu) dan rumah JJ Rizal yang berada di belakang kantor.  

Meskipun oplah buku dan penjualan terus menurun dari tahun karena kebijakan dari Gramedia, dapur Komunitas Bambu tetap ngebul dengan berbagai cara, mulai dari menjadi ghost writer, merchandise, event, konsultan, pembicara. Merampingkan pegawai juga menjadi pilihan. Kabar yang sangat disayangkan yaitu sang pembuat artwork cover buku Kebo sedang tidak bisa menerima order karena sedang merawat orang tua nya yang sedang sakit. Terlihat dari salah terbitan terakhir Komunitas Bambu (Ibu Pergi ke Surga – Sitor Sitomorang) tidak mencerminkan gaya buku Komunitas Bambu yang sudah akrab dengan visual gaya Kebo.

Secangkir kopi hitam disuguhkan sambil membahas filem-filem yang membawa tokoh bangsa seperti Tjokroaminoto dan Soekarno. Kritik JJ Rizal terhadap filem-filem tersebut adalah desoekarnoisasi seperti memberi label Soekarno yang playboy dan punya kekuatan mistis dan Tjokroaminoto yang lebih dilihat sebagai satrio piningit ketimbang kemampuan intelektualnya. JJ Rizal merekomendasikan filem mengenai Soekarno yang masih layak untuk dikonsumsi, “Ketika Bung di Ende” yang diproduksi oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.Banyak cerita menarik dari JJ Rizal hingga kopi saya tandas dan tujuan selanjutnya telah menanti.  

Selamat dan semangat untuk rumah baru Komunitas Bambu. Sampai jumpa di lain kesempatan.   

Kamis, 19 Februari 2015

Yogyakarta, 14 Februari 2015



Yogyakarta, 14 Februari 2015

Sudah siang saat saya tiba di Terminal Giwangan, melanjutkan perjalanan ke dengan Trans Jogja yang tarifnya barusan naik dari 3000 rupiah menjadi 3600 rupiah. Makan siang lotek di kedai “Sederhana” yang menjadi lotek kesukaan di Jalan Parangtritis. Tiba di KUNCI ada kawanan Visual Jalanan dan Klub Karya yang sedang tinggal di Jogja selama dua minggu lebih, ada Yoyo, Abi Rama, Aryo, dan Denny, juga ada Chepas dan Bagus yang menyapa. Saya menumpang mandi dan beristirahat di KUNCI yang menempati  rumah lama dengan pekarangan yang luas.

Menemukan buku yang tergeletak di ruang makan yang semi outdoor, buku karya Andy Fuller dan Dimaz Maulana, “The Struggle for Soccer in Indonesia: Fandom, Archives, and Urban Identity”. Membaca sejumlah halaman pertama yang langsung menarik perhatian, sejarah persepakbolaan Indonesia terutama Surabaya. Saya langsung menghubungi  Dimaz, berniat mendapatkan satu kopi buku ini, ternyata cetakan pertama sudah habis, harus menunggu funding untuk memproduksi cetakan kedua. Dimaz merencanakan buku ini untuk didiskusikan di Surabaya.

Sebelum hujan turun dengan deras, saya sudah tiba di Krack Studio, ada Moki dan Malcom di studio kerja mereka. Tengah berlangsung pameran tunggal Prihatmoko Moki bertajuk “Forget Me Not”. Pameran hasil residensi Moki di Megalo, Canberra, Australia. Moki mengambil isu kolonialisasi Inggris atas Australia, ketengangan yang masih terjadi antara orang indigineous (Aborigin) dan non-indigenous.  “Forget Me Not” memiliki dua seri yang dikerjakan di Megalo dan satu karya baru yang diproduksi di Krack Studio.

Seri pertama adalah Captain Cook Still Here. Moki menyajikan kembali karya E Phillips Fox yaitu lukisan “The Landing of Captain Cook at Botany” dengan memotong Captain Cook dan menaruhnya dalam gambar ruang studio Megalo dan rumah tempat tinggal selama residensi. Seri kedua adalah “McRae vs YMCK”. McRae adalah seniman Aborigin yang banyak menghasilkan karya mengenai kehidupan sehari-hari orang Aborigin. Moki menyandingkan karya Phillips Fox dengan karya McRae, sebuah pertemuan yang menggambarkan perebutan lahan. Karya baru yang diproduksi Moki adalah Kotak Emas yaitu sebuah mural yang memenuhi salah satu sisi dinding ruang pamer di Krack Studio yang menyajikan titik-titik kekayaan alam Indonesia (rempah-rempah, uranium, gula) yang diincar dan menyebabkan perebutan lahan yang masih berlangsung hingga kini.  Moki menjelaskan tiga karyanya  ini kepada Mastodon yang datang untuk berkonsultasi dengan Moki mengenai printmaking.

Mastodon pergi, Chabib ditemani oleh Sita datang berkunjung ke Krack Studio. Chabib sedang di Jogja untuk pameran yang dikerjakannya bersama Ketjil Bergerak. Chabib sendiri telah melakukan riset mengenai kelompok seni Decenta di Bandung.  

Masih gerimis, dengan payung saya meninggalkan Krack Studio menuju MES 56. Sempat mampir ke Ace House melihat Uji Hahan, Hendra Hehe, dan tim sedang melakukan finishing untuk vinyl Frau – Starlit Carousel. Hahan, Wok The Rock, Uma Gumma, dan Gufi membentuk Nirmana Records yang diperuntukan untuk merilis piringan hitam band/musisi dari Yogyakarta. Rilisian perdana Nirmana Records adalah Frau – Starlit Carousel yang sebelumnya dirilis secara digital oleh Yes No Wave Music dan format CD oleh Cakrawala Records.

Meninggalkan Ace House menuju MES 56, venue book signing Frau – Starlit Carousel. Nirmana Records merilis vinyl dengan buku patitur untuk piano dan gitar yang dikemas secara eksklusif seharga 395.000 rupiah, harga yang pantas untuk karya yang dihasilkan. Hanya diproduksi sebanyak 200 buah, dan setiap pembelian maksimal dua buah, dalam rangka meminimalisir penimbunan.  Hujan pun reda, telah hadir Frau, seluruh personel MES 56 dan Nirmana Records, Bagus Yes No Shop, para pendokumentasi, dan sejumlah pembeli. Acara book signing dimulai, ditutup dengan munculnya pelangi, manisnya.

Selepas book signing, panitia pertunjukkan peluncuran vinyl Frau – Starlit Carousel segera menata venue dengan kursi, sound system, lampu, dan menyalakan genset. Pertunjukkan akan dimulai pukul 8 malam ini. Para 130 pembeli tiket pertunjukkan senilai 30.000 rupiah mulai berdatangan sejak pukul 7 malam. Acara dibuka dengan pemotongan tumpeng, selamatan kelahiran Nirmana Records, dan Frau sudah siap tampil untuk menghibur penonton yang memenuhi halaman MES 56. 




Frau membawakan seluruh lagu di dalam album perdananya, termasuk dua lagu yang hanya masuk dalam rilisan piringan hitam (Marry Me & Oscar). Penonton menyaksikan dari jarak dekat, hangat dengan kata-kata pengantar tiap lagu yang dihaturkan oleh Leilani Hermiasih. Wok The Rock tampil bersama Frau dalam lagu Rat and Cat dan Nadya Hatta dalam Salahku, Sahabatku. Tidak terdengar sing along, tapi semuanya terlihat menikmati, sepertinya sebagian besar penonton menyanyi bersama dalam hati. Tarian Sari dibawakan sebagai encore pertunjukkan malam ini. Pesta peluncuran belum usai, dilanjutkan karaoke bersama, saya pun pulang dengan hati tenang.     

Senin, 16 Februari 2015

JAKARTA: KUNJUNGAN TERAKHIR


pemandangan dari lantai lima rumah susun Petamburan

Kunjungan terakhir saya ke Jakarta, akhir Januari silam, meskipun hanya dua hari kaget juga bisa berkunjung ke beberapa tempat baru yang berkesan.
1.   
      Koalisi Seni Indonesia
Oming, kawan yang baru pindah ke Jakarta menginformasikan bahwa tempat dia bekerja, Koalisi Seni Indonesia (KSI) baru pindah ke Buncit Indah, saya berniat ke sana dengan Trans Jakarta, transit di Dukuh Atas lalu naik jurusan Ragunan, turun di Halte Buncit Indah. Berjalan kaki sekitar 10 menit menuju suatu rumah bercat putih dua lantai di Jalan Amil 7a. Saya membuka pintu tanpa bel, lantai dasar yang kosong, ternyata kantor KSI di lantai dua, disambut oleh ketua KSI, M. Abduh Aziz yang cukup kaget dengan kunjungan saya.  

Sambil minum teh dan nyamil, kami saling sharing mengenai aktivitas c2o library dan KSI, Ayu—salah satu personel primitif zine--turut serta berbincang dengan kami. KSI dibentuk berdasarkan kebutuhan sejumlah pelaku dan komunitas seni akan kehadiran organisasi payung yang menaungi mereka. Salah satu misi KSI adalah melakukan advokasi kebijakan publik dalam bidang kesenian. Ternyata KSI tidak sendirian di rumah ini, di lantai dasar akan menjadi kantor Jakarta Biannale 2015, tahun ini rumah akan ramai.  

2    Pasar Santa
Fenomena Jakarta yang menarik dari tahun lalu hingga saat ini, Pasar Santa. Pagi itu hanya ABCD Coffee dan Bear & Co yang sudah membuka kiosnya. Lantai dua yang dipenuhi oleh kios “anak muda” memang baru ramai sore dan malam hari, menjadi ruang publik baru yang menarik dimana kita bisa menyaksikan pertunjukkan musik, diskusi buku, pameran seni, dan anak-anak muda yang bermain skateboard dan sepeda di dalam pasar. Saya keliling lantai satu yang dipenuhi oleh kios kelontong, di sana juga ada Space Galeri Pasar—art space yang dikelola oleh Arcolabs. Saya lalu ke basement yang penuh dengan kios sayuran segar dan sejumlah warung makan, ada perasaan nyaman mencium segarnya. Di basement juga ada kios-kios Jakarta’s Toy Underground. Namun kenaikan harga sewa kios menjadi isu yang melanda para pedagang  saat ini.  

3.    Wikimedia Indonesia
Saya menjadi anggota Wikimedia Indonesia pada tahun 2014, dilanjutkan dengan Indonesian Netlabel Union bekerja sama dengan Wikimedia Indonesia untuk lokakarya entri wikipedia tahun lalu di Unpar, Bandung. Undangan untuk berkunjung ke kantor Wikimedia Indonesia, saya iyakan, lokasinya di Jalan Pati nomor 1, Menteng, bersebelahan dengan rumahnya Marco Kusumawijaya. Siska Doviana --Ketua Umum Wikimedia Indonesia--menunjukkan ruang meeting, ruang kerja, dan ruang pemindai. Tengah berlangsung project pemindai hingga September 2015 dengan mempekerjakan tuna rungu untuk melakukan pemindaian dan proof reading, sayang materi yang dipindai adalah ensiklopedia, Wikimedia Indonesia belum mendapatkan materi yang lebih “penting” untuk segera dipindai.

Ternyata rumah dua lantai ini adalah rumah bagi tiga organisasi: Wikimedia Indonesia,    
Humanitarian Open Street Map (Peta Terbuka Untuk Kemanusiaan), dan World Wide Web Foundation (Open Data Lab Jakarta), projek rumah bersama ini menyediakan ruang untuk lokakarya dan rapat yang bisa digunakan bersama. Wikimedia Indonesia masih membuka pendaftaran anggota tahun 2015, paling lambat 28 Februari 2015, menjadi anggota Wikimedia Indonesia sebagai salah satu bentuk dukungan kepada organisasi nirlaba ini yang bergerak di bidang teknologi yang mengusung partisipasi masyarakat dan keterbukaan. Pendaftaran bisa dilakukan di link ini  

4.    Shift Project
Sejak berkenalan dengan Angga Wijaya di Workshop Kurator Muda tahun 2013 di ruangrupa, saya tertarik dengan ide pamerannya mengenai baju bekas. Projek tersebut berhasil diwujudkan awal tahun ini dengan dukungan dari Japan Foundation. Angga Wijaya sebagai kurator dari “The Shift: Imported Secondhand Cloting Project” yang mengajak tiga seniman, Ardi Gunawan, Yudha Kusuma Putra “Fehung”, dan Ismal Muntaha. Pameran dilakukan di Awanama Art Habitat. Angga Wijaya menjelaskan bahwa pameran ini menampilkan karya mengenai pakaian impor bekas di Pasar Senen (site specific) yang menjadi situs riset dan basis dalam pembuatan karya.

Pakaian impor bekas yang menjadi komoditi, ditampilkan sebagai instalasi oleh Ismal Muntaha. Setelah melakukan penjelajahan di blok “baju murah” di Pasar Senen, Ismal menemukan jas bekas perdana menteri Jepang, lalu ia memamerkannya di Pasar Senen sebagai benda bersejarah, kemudian dipindah ke Awanama Art Habitat dengan instalasi pakaian bekas yang mencerminkan jam pasir, waktu.  

Ardi Gunawan menyajikan analisis mengenai kebakaran Pasar Senen yang terjadi April 2014. Dengan menyertakan objek temuan sisa kebakaran, video observasi, dan audio hasil analisisnya, menjadikannya sebagai sebuah monumen. Audio yang di-looping terkesan tidak ada awal maupun akhir, seperti siklus kehidupan pedagang Pasar Senen.

Fehung dengan judul “Seniman Senen Hidup Kembali”, membawa kembali narasi tahun 50-an dimana Pasar Senen menjadi pusat aktivitas seniman ibukota. Fehung mengajak sejumlah pedagang baju bekas untuk berpose dengan baju dagangannya yang paling disuka, lalu fotonya dipajang di tembok blok pengungsian pedagang baju bekas yang lapaknya terbakar April lalu. Saya terkesima dengan hasil foto dengan gambar latar yang menyesuaikan dengan pakaian yang dipilih, seperti latar gambar lembah dengan pedagang  yang pakaian putri kerajaan, mengharukan.   

5   Pasar Senen
Pasar Senen yang saya selalu kenang adalah pasar basah yang didominasi oleh keturunan Tionghoa, pasar kue dini hari, pasar baju bekas dan buku bekas. Pasar Senen yang bersebrangan dengan Stasiun Pasar Senen, terlihat masih kokoh sebagai pasar tertua di Jakarta. Saya berniat untuk melihat karya Fehung yang dipamerkan di blok pengungsian (blok buku bekas). Koleksi “baju murah” di Pasar Senen menjadi favorit banyak orang, lapak-lapaknya lebih rapih ketimbang di Pasar Terong di Makassar atau Pasar Gembong di Surabaya. Karya Fehung dipamerkan di blok “buku murah” yang menjadi tempat pengungsian pedagang baju bekas. Rasa bangga para pedagang atas barang dagangannya tercermin dari foto-foto yang dipamerkan.  

6.    QUB TV
QUB TV menjadi media partner Sunday Market vol 08 “Black Christmas” Desember lalu. Perkenalan yang menyenangkan dengan mereka (Eric Liem dan Aimee), senang dengan pilihan mereka untuk datang ke Surabaya. Eric menceritakan kantor QUB TV yang pernah dijadikan venue noise gig, saya langsung terpikir video yang dibuat oleh Adithya Utama yang ternyata memang pernah bergabung di QUB TV—sebuah jaringan televisi online yang memproduksi video seputar culture, art, lifestyle.

Tiba di terminal Blok M, keluar ke kiri dan menemukan bagian Blok M yang sedikit berbeda dan tidak terlalu ramai. Saya berada di depan bangunan besar dengan mural lapangan futsal yang menutup seluruh muka bangunan, Bara Futsal, menarik. Kantor QUB TV berada di basement bangunan ini, dengan dinding bercat putih, white space. Di kantor QUB TV ada Eric, Aimee, Tasya, Vanessa, mereka sedang bekerja di kursi dan meja yang portable, minim properti disini, ruang yang menarik untuk dikelola. Ternyata ruang ini digunakan juga sebagai venue gig, pameran, studio foto. Karena peralatan kantor bisa dibereskan maka ruang ini bisa sepenuhnya berubah menjadi apa saja.

Sebagai penutup, Eric mengajak saya tur di bangunan lima lantai ini, yang dulunya adalah Golden Truly. Waktu kecil, Bapak saya selalu mengajak saya dan kakak-adik bermain di Golden Truly. Dua lantai menjadi lapangan futsal yang disewakan, sisanya kosong. Kami ke rooftop, dan waw ini spot yang menenangkan di tengah riuhnya Blok M. Eric diberi kepercayaan untuk mengelola ruang-ruang di bangunan ini, mulai tahun ini QUB TV akan kembali bergerak, salah satunya adalah Lowlight Bazaar yang akan digelar 1 Maret 2015 mendatang.  Mari berkunjung ke Bara Futsal, mengenang Golden Truly, dan menyaksikan hasrat anak muda.     

7.    Ruru Radio
Ruru Radio dengan logo baru resmi diluncurkan Februari ini dengan tajuk “Pesta Mega Peluncuran Ruru Radio”. Selain logo baru dan nama baru (sebelumnya bernama Rurushop Radio), ruangan juga diperbarui dengan sekat yang lebih jelas untuk memisahkan dengan ruang lainnya di ruangrupa, dipasang AC, dan pastinya beragam program baru. Radio kontemporer tanpa gelombang ini menjadi salah satu radio online terfavorit di kalangan anak muda Indonesia.

Rusun Petamburan
Opet dan Ade tinggal di rumah susun Petamburan, saya dari dulu penasaran ingin tinggal di rumah susun. Rumah susun lima lantai ini sering dipakai syuting FTV, Opet dan Ade tinggal di lantai lima dengan pemandangan Kali Ciliwung, Pasar Tanah Abang yang bangunannya seperti masjid, gedung-gedung pencakar langit, rel kereta api dengan KRL yang hilir mudik, dan pasar basah yang menjadi pusat pergerakan manusia.

Anak kecil yang bermain sepeda di lorong, meja makan yang tertata rapih di beranda, pedagang roti hangat yang berkeliling, bau sedap masakan di warung lantai dasar, suara langkah kaki dan pintu yang dibuka, kasur yang tergeletak di sudut, lidah buaya yang tumbuh liar, hidup cukup tenang di sini.     

Seniman Senen Hidup Kembali - Fehung